Prosese Ta’aruf...
Sebuah pengalaman
pertama dalam hidupku yang ku yakin tak akan mudah terlupakan. Sebuah
pengalaman spiritual nan suci, dimana Allah dan para malaikatnya menjadi saksi.
Sebuah proses pencarian jodoh dengan cara yang Insya Allah baik dan dianjurkan,
sebuah taaruf.
Aku pertama kenal
dengan calon aku pada bulan Februari 2016, kami bertemu disebuah Yayasan Yatim
dan Dhuafa, sebulan kemudian tepat tanggal 25 Maret 2016 ikhwan tersebut
mengajak aku untuk menjalankan hubungan serius.
Disaat usia ku berada
di masa-masa remaja teralihkan dengan masa kedewasaan. Sebuah batas yang kadang
tidak jelas, apakah diri ini masih remaja, ataukah benar-benar sudah dewasa dan
dapat memikul tanggung jawab orang lain, melalui menikah. Tapi, akhirnya waktu
itupun tiba. Sebuah waktu dimana aku memutuskan untuk memulai sebuah proses
suci dan diridhoi oleh Allah.
Sungguh, jika kita bisa
menjalankan tuntunan agama ini sebagaima seharusnya, pastilah kebahagiaan dan
keselamatan yang akan kita dapatkan. Contohnya ya apa yang telah aku lakukan.
Proses taaruf yang benar-benar dijaga cara dan aturan-aturannya. Tak ada
berkhalwat yang bisa menimbulkan fitnah. Tak ada pembicaraan-pembicaraan mesra.
Yang ada hanyalah pembicaraan-pembicaraan yang penting dan memikirkan manfaat
kedepan. Sungguh jauh berbeda dengan konsep pacaran yang dianut beberapa
pemuda-pemudi di dunia ini (mudahan Allah memberikan kita hidayah).
Proses taaruf itu
sendiri difasilitasi oleh seorang murobbi, kebetulan beliau adalah pamanku. Beliau
juga deket dengan calonku waktu itu.
Nah, proses ini
tidaklah mudah bagiku. Alasan paling besar adalah ini kali pertama aku memulai
proses taaruf ini dengan seorang ikhwan. Walaupun terbiasa berbicara dengan
orang lain di depan umum, tapi entah mengapa ketika aku melakukan proses ini,
gugupnya minta ampun. Sambil terus mengucapkan doa dan dzikir dalam hati,
berharap Allah memberikan yang terbaik buatku.
Kami menyepakati untuk
memulai proses ini di bulan April, dan menghadirkan satu orang murobbi yang
dipercaya untuk mengawal seluruh proses ini.
Pada pertemuan ini kami
banyak membahas mengenai visi dan misi keluarga ke depan, kedalaman ilmu agama,
pandangan mengenai karir, menceritakan sifat dan karakter masing, dan alasan
kenapa memilih si calon.
Di akhir pertemuan ini
kami menyimpulkan bahwa kita akan mengambil keputusan untuk menerima pinangan
atau tidak 3 bulan setelahnya. Artinya bulan Juli tepatnya kami akan mendapat
jawaban apakah aku menerimanya sebagai suami ataukah tidak, begitupun dengan dia,
apakah dia akan menerimaku sebagai istrinya atau tidak.
Dalam proses 3 bulan
itu, sungguh bulan-bulan yang tidak mudah bagiku dan juga baginya. Bagaimana
tidak, ini merupakan keputusan besar dalam hidupku. Aku hanya ingin
melakukannya sekali dengan orang yang tepat. Karena itu shalat-shalat
istikharah dan doa menjadi hal-hal yang sering kulakukan dalam 3 bulan itu.
Alhamdulillah jawaban
itu datang dari Allah, semakin hari Allah semakin menguatkan keyakinan ku pada
keputusan ini. Aku akan menerimanya dengan meminta nasehat beberapa orang, baik
yang sudah menikah ataupun belum, semakin mempertebal keyakinanku. Terima kasih
atas dukungannya selama ini.
Hari terus berjalan..
Dalam waktu penantian
itu, kami juga menjaga agar semua prosesnya tetap terjaga ke-ahsan-annya. Tidak
saling sms ataupun menghubungi terkecuali hal-hal yang darurat. Biar hati kami
benar-benar hanya mendapat inspirasi keyakinan dari Allah semata, bukan atas
dasar hawa nafsu semata.
Bulan Juli tiba, kami
akan mendengarkan jawaban masing-masing atas istikharah yang kami lakukan. Dan
forum ini dimulai dari jawaban dia, jawabannya adalah dia tetap pada komitmen
awal, bahwa tak ada yang membuat dia ragu untuk memilihnya, dan dia ingin
proses ini dijajaki ke tahap yang lebih serius, yakni menikah.
Kemudian, giliran
berikutnya adalah jawaban aku. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Aku
sama sekali tidak ragu kalau aku menjadi istrinya, dia bisa membimbing aku dan
calon keluarga kita nanti.
“Tetapi, orang tuaku
masih belum setuju aku menikah sekarang. Lagipula aku masih dalam tahap study
S1. Masih harus menunggu aku keluar dari perkuliahan itu, sekitar 3 tahun lagi.
Lagipula orangtuaku belum tahu kesanggupanmu dalam menafkahiku nanti.”
Lantas, dia
menyampaikan padaku “Hmm, kita sama-sama tahu bahwa Allah punya rencana yang
sangat indah buat diri kita masing-masing. Sebuah rencana yang akan membawa
diri kita pada kebaikan. Aku tahu, kondisi mu sekarang, juga kekhawatiran orang
tuamu apakah aku bisa menafkahi mu kelak. Lagipula mereka memang belum mengenalku.
Kalau begitu, kita sepakat untuk menyudahi proses ini. Aku sangat yakin, jika
kamu adalah istriku nanti, suatu hari kita akan dipertemukan lagi dan akan
dimudahkan jalan menuju kesana. Namun jika tidak, aku juga yakin ada orang lain
yang lebih tepat untukmu dan untukku. Aku hanya ingin yang terbaik.
Mudah-mudahan Allah menjaga hati kita, agar tidak terkotori lagi.”
Forum ini ditutup
dengan pesan dia kepadaku “Jaga diri baik-baik, jika Allah berkehendak kita
menjadi suami-istri nanti, yakinlah, kita akan dipertemukan kembali dalam
sebuah ikatan yang suci, sebuah ikatan yang menyempurnakan separuh dien ini,
yakni pernikahan. Selama proses ini, marilah kita memperbaiki diri
masing-masing dulu. Mulai membicarakan ini ke orang tua masing-masing, menyiapkan
ilmu dan targetan-targetan akhirat, kesiapan mental, dan juga khusus buatku,
akan mempersiapkan kemampuanku dalam finansial untuk menafkahi keluargaku
nanti. Mudahan Allah mendengarkan doa-doa kita ini. Lebih jaga hati dan jaga
pandangan, karena kita sama-sama punya komitmen.”
Pada bulan Agustus, kami membicarakan hal ini kepada
orangtua masing-masing dan dia betemu dengan orangtua aku, begitupun aku
bertemu dengan orangtuanya, akhirnya orangtua pun dengan beberapa pertimbangan
menyetujui proses ta’aruf kami dan lanjut pada tahap khitbah.
Penantian seorang caon istri...
Ya Rabb… berharap keluargaku faham..agar menyegerakan
akad ni..
Sabar dalam komitmen, sabar dalan setiap penantian dan
sabar dalam ujian, itulah yang kurasakan dalam penantian setelah proses
taarufku lancar, dan siap ke pernikahan.
Bagiku ujian ini cukup berat, karena tidak hanya
logika dan perasaanku yang berperan, namun semua panca indera ku pun ikut
berperan..
Ya Rabb.. mudahkan..mudahkan.. dalam penantian ini..
Tidak hanya aku disini yang harap-harap cemas,
melainkan mujahidku juga…
Berfikir bahwa ini ujian awal kita, apakah kita bisa
melewati semuanya dengan fikiran tenang dan menyikapinya jauh lebih dewasa,
seandainya ini semua bisa terlampaui, maka kita berhasil dan ujian yang
didepanpun akan terlewati dengan mudah.
Bismillah kita pasti bisa melewatinya bersama, aku
menantinya, aku yakin mujahidku akan menepati janji itu, akan meredakan semua
kepanikanku saat ini..
Ya Rabb.. lindungi selalu dia dimanapun dia berada,
jaga dan mudahkan langkahnya.. karena aku disini merindukannya.. merindukan
seseorang yang akan mengajakku bertemu dangan Rabbnya.. bersama-sama berjalan
menuju surgaNya.. aminn.
Menuju Pernikahan
Ya Rabb, tak terasa sudah bulan september lagi…
Bulan dimana beliau dan keluarga datang kerumah aku
untuk melaksanakan khitbah ..
Ya saat ni aku sedang menghitung bulan, rasa cemasku
semakin menjadi-jadi. Semakin dekat, rasa cemas itu semakin berdegup. Rabb
kuatkan selalu hamba. Proses persiapan pernikahan kami 4 bulan, berharap Engkau selalu mendengar
doa-doa kami.
Kami yakin pada janjimu ya Allah ya rabbal alamiin.
Inilah proses taaruf kami, kisah taarufku yang begitu
menguras energi perasaanku, menyita seluruh perhatianku selama 7 bulan.
Berawal di bulan Februari pertemuanku dengan dia,
sebuah kejutan dari Allah swt, data taaruf yang tak kusangka. Itulah taaruf
yang berkah dan indah serta sukses dalam kehidupanku.
Lalu bulan Agustus pertemuan antara dia dengan orang
tuaku dan aku dengan orang tua dia, untuk mengenal lebih dekat. Langkah
selanjutnya, setelah taaruf, maka kami khitbah dulu di bulan September,
tepatnya ahad 26 2016. Maka penantian pun begitu indah dan banyak ujian dalam
perjalanan suci kami.
Kami menjalani proses taaruf dengan bekal keyakinan, Allah
akan memudahkan jalan kami, Allah akan memberikan pertolongan pada niat
suci kami, Allah akan menguatkan langkah perjuangan kami, menguatkan keistiqomahan
kami untuk selalu berada di jalan da’wahNya.
Dan aqad ijab qobul di pelaminan, pada hari sabtu 7
Januari 2017 adalah buktiNya.