Seperti ulat yang ingin menjadi KUPU-KUPU..
Tidaklah mudah untuk menjadi terlihat indah, penuh rintangan dan keistiqomahan..
Look - lihatlah baik-baik dirimu yang ingin menuai keindahan yang baru dalam berhijrah..
Lisent - Dengarlah suara hati mu ketika mulai berkejolak membakar hati ketika telah banyak orang di sekitar mu telah berhijrah..
And Feel - dan rasakanlah bisikan-bisikan Sang Ilahi yang merayumu untuk menemukan KEBAHAGIAAN ABADI..
KINI Bukan saatnya untuk Terdiam..
Lihat dan Buka mata hati mu..
Hijrah merupakan ujian dan cobaan, karena setiap orang yang hidup pasti akan mendapatkan suatu cobaan, terutama bagi orang yang beriman, sebesar apa keimanan seseorang maka sebesar itu pula cobaan, ujian dan fitnah yang akan dihadapi. Meninggalkan harta, keluarga, sanak famili dan tanah air merupakan cobaan yang sangat berat, apalagi tempat yang dituju masih mengambang, sangat tidak bisa dibayangkan akan kerasnya ujian dan cobaan yang dihadapi saat manusia sudah mengikrarkan diri sebagai hamba Allah. (16:110)
Buku tentang sebuah makna dan perjalanan hijrah, penuh kisah inspiratif, kaya akan ilmu dan motivasi, kisah nyata dari para penulis 😊
Spesial untuk Siapapun yang ingin,sedang dan BERUSAHA istiqamah dalam berHIJRAH.
Karena HIJRAH itu MUDAH, yang SULIT adalah mempertahankannya.
Alhamdulillah ada 9 kisah TRUE STORY tentang hijrah.
Ada yang membahas tentang islamophobia, kematian, menikah muda, asmara pernikahan dan masih banyak kisah lainnya.
More info : 085697185811 (WhatsApp)
#timpenulis #karyamojang #bukuberfaedah #menulisituasyik #karyabersama #hijrahasyik #istiqomah #hadiahsyurga #metamorfoselfasyik #hijrahkeren #bukukeren #muslimahonly #bertholabulilmi #hijrahituproses #mojangkreatif #berubahlebihbaik #hijrahhakiki #hijrahselamat #bahagiaduniaakhirat #fastabiqulkhoirats
Kisah Kehidupan ~
Sabtu, 20 Januari 2018
Jumat, 24 November 2017
Perjuangan demi Sang Buah Hati
Caesar adalah
melahirkan dengan melakukan sayatan pada perut untuk mengeluarkan bayi (kesimpulan
saya). Topik ini menjadi sangat menarik untuk para calon ibu yang sudah divonis
harus melahirkan secara caesar karena alasan medis dll, terutama untuk para ibu-ibu
muda yang baru pertama kali hamil dan akan menjalani persalinan yang pertama.
Pastinya sangat deg-degan dan menimbulkan berbagai pertanyaan bagaimana ya
nanti prosesnya? sesakit apa ya? bagaimana ya rasanya dibius? dan masih banyak
lagi. Berbagai hal akan dilakukan para calon ibu muda untuk mencari info baik
lewat buku ataupun internet agar persiapan persalinan lebih matang. Sama
seperti yang saya lakukan. Disini saya akan menceritakan dari kenapa saya harus
melakukan operasi caesar, sampai detail proses persalinannya.
Di umur
kehamilan ke-32 posisi bayi saya masih sungsang, ini diketahui dari hasil usg.
Dokter menyuruh saya untuk nungging dengan dada menyandar alas minimal 5x dalam
sehari, jika sampai umur 39 minggu bayi belum berada di posisinya terpaksa
harus melahirkan secara caesar kata nya. Saya mulai cemas, karena persiapan
mental yang saya tanamkan dari awal adalah untuk melahirkan normal, bagaimana
harus mengejan, bagaimana mempersiapkan pernafasan yang bagus, bahkan saya
sudah banyak membaca artikel-artikel melahirkan secara normal. Pastinya di
dunia ini lebih banyak wanita yang ingin melahirkan normal daripada caesar.
Usaha yang saya
lakukan ternyata tidak membuahkan hasil. Di umur kehamilan 37 minggu hasil usg
masih sama. Mau tak mau saya harus melakukan operasi sebelum minggu ke 40.
Karena kata artikel-artikel yang saya baca jika ingin melakukan operasi caesar
lebih baik dimajukan dari hpl (hari perkiraan lahir), takutnya nanti keburu
lahir dan beresiko tinggi.
Hpl saya jatuh
pada tanggal 10 okt 2017. Saya dan orangtua berencana akan periksa 1 kali lagi
dan akan konsultasi dengan dokter kapan waktu yang tepat, tentunya sebelum
tanggal 10.
Sore hari, tanggal
4 Okt 2017 saya periksa usg, tanpa konsultasi akhirnya dokter langsung
mengatakan "besok operasi ya, malam ini langsung dirawat, silahkan pulang
dulu untuk mempersiapkan segalanya tapi sebelum pulang cek darah dulu".
Perasaan saya ketika itu cemas, takut, dagdigdug dan suami saya berada di bdg pada
malam itu langsung berangkat menuju bogor tempat saya akan melahirkan.
Tibalah malam
hari di RS, karena tidak ada suami, ayah saya langsung diminta untuk mengisi
data-data dan perjanjian dari RS. Pukul 23:00, saya masuk ruang IGD dan perawat
langsung memasangkan infus dan karteter (pertama kalinya saya dipasang alat ini).
Bagi yang belum pernah dipasang infus, rasanya hanya seperti di suntik, hanya
saja yang masuk ke pembuluh darah jarumnya lebih lunak. Rasanya dipasang
karteter menurut saya tidak begitu sakit, hanya rasanya aneh, geli. Pemasangan
karteter ini juga pengalaman pertama bagi saya, saat ingin BAK rasanya urin
seperti tidak bisa keluar, ternyata sudah penuh saja kantongnya *gak kerasa,
hehe.
Pukul 00:00 saya
dibawa keruang perawat untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk operasi jam
08:00, sayangnya saya sulit sekali untuk tidur bahkan hanya tidur kurang lebih
2 jam, sebelum operasi saya mulai berpuasa dari jam 02:00..
Pagi pun tiba..
Pukul 07:30 kursi
roda di dorong, perawat bilang 'berdoa ya teh supaya lancar nanti operasinya,
supaya sehat semua'. Haduh, malah tambah bikin merinding. Saya terus berdoa
tidak henti, disela senyum dengan suami pun dalam hati saya juga sambil berdoa
terus. Takut saya ga kuat hehe. Suami saya meminta izin untuk ikut masuk ruang
operasi tapi perawat tidak mengizinkan (sedih rasanya tdk ada yang mendapingi).
Masuk ruang
operasi saya bilang sama suami dan keluarga semua "doain ya, maafin semua
kesalahan dea" semua menjawab "pasti di doakan, jgn tegang". Saya
melihat suami dengan mata yang penuh harap dan senyuman sambl berkata 'kuat ya bun'. Memang beda banget senyum suami
saya waktu itu, sepertinya ada ketakutan tapi dia mencoba menutupinya. Sayapun
begitu, bahkan sempat berfikir jika saya nanti tidak selamat berarti ini
terakhir kalinya saya melihat suami saya, hiks ..
Di dalam ruang
operasi saya diminta ganti baju operasi dibantu perawat, baju hijau gitu
dipakainya dari depan. Belakang hanya di tali. Jadi yang melekat di badan hanya
baju operasi itu saja sama kap kepala.
Saya sudah
diminta berbaring di tempat tidur dorongan menunggu detik-detik pindah ruang.
Para asisten dokter seliweran kesana kemari mempersiapkan apa-apa saja yang
dibutuhkan. Pakaian hijau-hijau lengkap dengan sarung tangan karet, masker dan
kap kepala (ga tau namanya). Suasana semakin mencekam. Ruangan sangat dingin.
Pukul 09:00. Tibalah
waktunya tempat tidur didorong. Semakin pasrah saja, hanya bisa berdoa terus
'ya allah lancarkanlah mudahkanlah, kuatkanlah hamba, beri waktu dan kesempatan
hamba untuk merasakan menjadi orangtua', hmm banyaknya permintaan seorang
hamba, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatanNya. Ternyata kamar untuk
operasi lebih dingin dari ruang operasi. Alat-alat operasi sudah dijajar rapi.
Lampu operasi sudah terang benderang. Tubuh saya diangkat dipindahkan ke meja
operasi. Rasa takut yang melanda sudah menjadi kepasrahan. Yang saya fikirkan
hanya anak saya pasti selamat, anak saya pasti lucu, ini tidak akan lama,
sebentar lagi perut saya akan segera mengecil, saya akan bertemu dengan si
kecil. Fikiran yang menurut saya dapat membantu mengurangi kegrogian. Jempol
saya mulai dipasang alat untuk mengecek denyut nadi, seperti penjepit yang ada
kabelnya dan tersalur ke monitor dengan bunyi 'tiit tiit tiit', hidung saya
dipasang oksigen, tangan saya dipasang tensi darah. Untuk alat lain saya lupa
masih ada apa saja. Selanjutnya saya diminta duduk membungkuk dengan kedua
tangan diatas paha dan badan dilemaskan seolah-olah tidur, agar tulang belakang
yang akan disuntik tidak tegang. Proses pembiusan dimulai, tulang belakang
bagian bawah disuntik, rasanya tidak begitu sakit, hanya seperti digigit semut
dan setelah itu terasa dingin seperti ada cairan yang masuk. Setelah itu saya
diminta berbaring. Tepat diatas dada saya dipasang kain berwarna hijau untuk
menutupi bagian perut kebawah, sepertinya bertujuan agar pasien tidak melihat
proses penyayatan yang takutnya akan mempengaruhi psikis pasien. Bagian paha ke
bawah rasanya seperti kesemutan. Dokter mulai membersihkan daerah dibawah perut
sampai kaki. Rasa kesemutan lama-lama berubah menjadi tebal, tapi usapan tangan
dokter masih terasa. Dokter meminta saya mengangkat kedua kaki, rasanya berat
dan kaki saya hanya bisa naik sekitar 10cm. Selanjutnya kaki kanan dan kiri
bergantian. Semakin berat dan saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi.
Operasi akan
dilakukan, dokter mengatakan 'siap ya de, berdoa'.
Terdapat 4
dokter dan 2 suster dalam ruangan, mereka mulai berdoa bersama 'Bismillah',
sayatan hanya terasa seperti kalau perut kita di sentuh dengan jari agak
menekan tanpa terkena kuku. Tapi saya tidak bisa membayangkan seberapa banyak
darah yang keluar. Setelah itu rasanya perut seperti ditarik kesana kemari,
badan saya sampai bergoyang-goyang. Tidak lama setelah itu saya mendengar
tangisan pertama anak saya. 'Subhanallah..' Langsung hilang ketakutan-ketakutan
yg terpendam. Bahagianya tidak bisa diungkapkan lagi, saya berkali-kali
mengucap alhamdulillah. Dokter bilang 'de selamat ya, anaknya laki2, ganteng,
tinggi, beratnya 2.8 kg, normal ya'. Setelah bayi dikeluarkan mulai terasa sulit
bernafas, pusing, dan mual. Dokter langsung memperhatikan denyut jantung saya
dan memberi bantal agar nafasnya bisa teratur, disinilah saya mulai pasrah
kepada Allah. Selesai membersihkan bagian yang dijahit, saya langsung muntah
karena efek obat bius, Operasi ini berlangsung selama satu jam, bayi saya lahir
pada pukul 09:25. Setelah operasi selesai, saya diangkat kembali ke tempat tidur
dorong, dengan kaki yang masih terasa tebal. Menunggu di ruang operasi, mungkin
untuk pemantauan pasca operasi kali ya. Setelah 2 jam saya dipindah lagi ke
tempat tidur dorong yang lain untuk dibawa ke ruang rawat inap. Di luar ruang
operasi sudah ada keluarga dan saudara saya.
Muka saya
kembali pucat setelah obat bius habis. Karena saya baru merasakan sakitnya
bekas sayatan, terasa panas, saya banyak mengeluarkan keringat seperti orang
habis lari, saya juga merasa sangat kehausan, selain itu sulit untuk menarik
nafas panjang karena perut sakit mengalami tekanan.
Selama 24 jam
saya tidak diperbolehkan untuk gerak hanya boleh belajar angkat kaki. Hari
kedua, alat infus mulai dilepas karna
tangan saya bengkak, tapi masih pakai karteter. Saya tidak bisa mandi karena
masih belum bisa bangun dari tempat tidur, baru belajar miring kanan kiri. Jadi
selama di RS saya mandinya cuma di lap-lap aja sama suami, hehe. Untunglah
suami saya gak jijikan orangnya. Padahal nifas masih sangat banyak diminggu
pertama pasca melahirkan. Saya memang tidak salah pilih suami, sangat bisa
diandalkan. Hari ketiga karteter saya dilepas, saya mulai belajar jalan, mulai
ke toilet sendiri pelan-pelan meski sakit tapi saya paksakan demi sembuh dan bisa
pulang kerumah, karena kalau saya belum bsa banyak gerak tidak di izinkan untuk
pulang, dan hari ahad siang dokter dan
bidan mengganti perban jahitan saya
sehingga sorenya saya kembali pulang kerumah.
Itulah
pengalaman melahirkan caesar anak pertama saya. Bagi para calon ibu muda yang
akan menjalani operasi caesar tetap semangat ya, kalian pasti bisa. Tidak
terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan kok. Karena mau tak mau kita harus
tetap menjalaninya. Semoga bermanfaat :-)
Senin, 13 November 2017
I’m pregnant :-)
Yey !
Diluar dugaan, kehamilan datang secepat kilat, kehamilan terjadi tak lama
setelah akad. Benar saja, karena saat menikah saya sedang menstruasi. Dan, Jreeeng! Alhamdulillah, Allah langsung menitipkan malaikat kecil
pada rahim saya.
Bagaimana rasanya mendapat amanah seperti itu?
Rasanya tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Pegel, seneng, mual, bersyukur, bahagia, haru tak terkira.
Begitulah.
Untuk ibu-ibu pemula seperti saya, kebingungan jelas melanda. Betapa tidak, Euforia menjadi istri masih melekat erat. Penambahan tanggung jawab, peralihan peran dan fungsi masih membuat kacau jam kerja tubuh. Setiap hari, biasanya dihabiskan untuk bermalas-malasan. Lantas, harus menyesuaikan diri untuk menjadi partner laki-laki paling ganteng sejagad setelah ayah 😀
Banyak suka-duka dialami selama membina rumah tangga yang masih seumur jagung ini. Alhamdulillah, masih diberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalani dengan sebaik-baiknya, setiap hari tantangan dimulai dari bangun pagi, masak dan kuliah (meski dalam keadaan hamil).
Belum selesai kegembiraan-kegembiraan menjadi istri (percayalah, manten baru lebih banyak gembiranya ketimbang sedihnya), saya kemudian mendapati tubuh yang kian melemah. Badan demam, pusing, mual, dan pegal..
Saat itu suami sedang diluar kota karena tugas dari kantor, saya fikir saya hanya sakit biasa tapi ternyata sakitnya tak kunjung reda, akhirnya saya coba beli test-pack untuk memastikan sebenernya ada apa dengan tubuh saya ini?
Benarlah, ternyata semua itu adalah tanda-tanda kehamilan :D
Yey!
Akhirnya, keluarga kecil yang baru kami bina ini diamanahkan seorang malaikat mungil yang masih dalam proses pembentukan dalam rahim.
Senang ya senang sekali.
Tapi ternyata, menyambut kehamilan memang memerlukan energi tinggi dan kesabaran tingkat dewa. Tak jarang saya banyak mengeluh. Bayangkan, kalau sakit sedikit saja, saya masih merengek-rengek (meski seringnya merawat diri sendiri di kosan), tapi saya memang cenderung tidak tahan sakit, pusing, manja. Pokoknya hal-hal yang masih berhubungan dengan anak kecil bisa disangkutkan ke saya, perihal durabilitas menahan sakit (nggak bisa banget kena sakit).
Nah kemudian, gabungkan dengan pengalaman hamil trimester pertama.
Gejalanya adalah setiap hari mual terus melanda. Untungnya, saya hanya dua bulan. Ngantuk terus, malas, tidak nafsu makan, sampai bobot saya turun dan hanya tersisa 39 kg.
Ketika diperiksa di bidan, alhamdulillah saya masih dinyatakan sehat-sehat saja dan bobot tubuh masih bisa dimaklumi sebagai ibu hamil pemula. Bidan hanya menyarankan untuk minum obat antimual supaya saya nafsu makan (dan nggak diminum juga), tak lupa menelan tablet penambah darah, sesaat sebelum tidur.Memang gejala pada tiap ibu itu berbeda. Ada bahkan yang mualnya dari trimester pertama hingga mau melahirkan. Alhamdulillah, saya cuma dua bulan.
Bagaimana soal ngidam?
Saya tidak terlalu harus banget saat itu ada apa yang saya inginkan, alhamdulillah saya ngidamnya tidak yang menyusahkan suami. Paling saya pengennya minum kelapa muda, durian (meski ga baik untuk ibu hamil), makanan lainnya, daan selalu pengennya jalan-jalan :-D
Bawaan bayinya apa?
Konon, tiap ibu hamil pasti bertingkah agak lain dari biasanya, ini disebut “bawaan bayi”. Kalau saya? Jadi makin malas (padahal udah malas kan ya), tapi wajah jadi makin berinar, gampang nangis kalau dibentak, tidak suka bising, kalau dengar keramaian dan nada-nada tinggi pasti stress, tidak suka berada di tempat ramai yang banyak orang asingnya, kayaknya itu aja deh.
Setelah dua bulan tersiksa lahir-batin, akhirnya pelangi datang juga.
Tepat pada bulan ketiga, gejala-gejala khas ibu hamil perlahan menghilang. Perut pun makin membuncit, mengeras, enak dielus-elus, apalagi sama suami #eh.
Saya jadi makin bangga menjadi ibu hamil, makin bahagia, makin disayang suami, dan makin lincah bergerak meski gampang capek. Bayinya juga nggak rewel, kalau ibunya repot, misal di rumah sendirian, kuliah, banyak tugas. Nggak bikin mual, nggak bikin capek, ibunya jadi bisa masak, beberes, dan menjalani hari seperti gadis muda pada umumnya 😀
Bulan ketiga adalah bulan surga bagi saya.
Di bulan ini, syukur mulai terpanjatkan, sudah jarang mengeluh. Kuliah juga sudah enerjik, udah bisa jalan-jalan sama sahabat, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan lainnya.
Alhamdulillah.
Konon, ketika seorang ibu berhasil melalui trimester pertamanya, ia boleh bersyukur. Masa kritis telah lewat. Pembentukan organ-organ vital telah selesai. Sekarang, ibu hanya menunggu jabang bayinya membesar, menyempurnakan bentuk, mendapat anugerah roh dari Illahi, dan mempersiapkan diri untuk lahir beberapa bulan ke depan.
Untuk trimester dua dan tiga alhamdulillah bayi dan ibunya dalam keadaan
sehat, namun saat itu kondisi bayi dalam keadaan sungsang dan diharuskan banyak
beraktivitas yang membuat kepala bayi berputar, qodarullah semua usaha telah
dilakukan namun trimester tiga kondisi bayi tetap sungsang.
Ternyata, pengalaman menjadi seorang ibu lebih menarik, ketimbang menjadi istri. Karena, menjadi ibu, berarti menjadi perempuan istimewa untuk dua orang sekaligus: anak dan suami..
Sabtu, 04 November 2017
About Pernikahan ^_^
Pernikahan
merupakan hal sakral yang baiknya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Beberapa hal perlu dipersiapkan sedini mungkin sebelum
menginjak gerbang pernikahan. Islam telah memerintahkan kepada hambanya untuk
melengkapi separuh dari agamanya dengan menikah. Menikah adalah bentuk konsistensi seumur hidup yang juga merupakan
ibadah. Dalam menjalankan ibadah, seorang hamba dituntut untuk
menyanggupinya dengan sesuatu yang tidak boleh sembarangan. Diperlukan
persiapan dan kesiapan diri yang baik untuk melaksanakan pernikahan.
Saat proses ta’aruf, Insya Allah atas
izin Allah dan semoga Allah meridhoi, saya bersedia menikah sebagaimana dalam
hadist ‘’jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhoi
agamanya, maka nikahkanlah. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi
dan kerusakan yang besar’’ (HR.Tirmidzi).
Begitupun hadist yang mengatakan “Barang siapa menikah karena taat kepada Allah maka ia
akan mencukupi dan memeliharanya.”
Serta dalam hadist lain “Barang siapa yang menikah karena
menjaga diri dari zina, maka pertolongan Allah akan dating kepadanya.”
Beberapa hadist tersebut akhirnya saya siap menikah karena
ibadah yang Allah dan rasulnya perintahkan serta saya menikah karena-Nya.
Menikah karena Allah
“Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul:
rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. At-Tirmidzi)
Dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW mewasiatkan kalau
menikah adalah sunnahnya para rasul, di hadits lain Rasulullah SAW juga
bersabda kalau pernikahan adalah penyempurnaan dari sebuah hadits di kitab ash-Shahiihah yang dihasankan oleh syeikh
al-bani :
“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan
separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk
separuh yang tersisa.”
Sementara Allah SWT memerintahkan menikah kepada
hamba-hambanya sebagaimana termaktub dalam surah an-nur ayat 32 :
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu,
dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki
dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan
menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…”
Itulah sebagian kecil dari perintah Allah dan Rasulnya
perihal pernikahan, jelas sudah kalau menikah adalah sebuah ibadah yang memang
Allah anjurkan. Sesuatu yang awalnya terlarang bahkan haram menjadi halal dan
berlimpah pahala kebaikan setelah halal melalui akad pernikahan, itulah
indahnya pernikahan. Ada pahala kebaikan dalam setiap detik ketaatan seorang
istri kepada suaminya dan juga ada pahala kebaikan di setiap detik kasih sayang
seorang suami kepada istrinya.
Mungkin ada beberapa hal yang menurut
saya yang harus saya siapkan untuk menuju pernikahan, diantaranya :
Persiapan Spiritual
Islam telah menjadikan pernikahan sebagai suatu gerbang
untuk mempertemukan seorang muslim dan seorang muslimah dan menyatukannya dalam
satu ikatan yang halal dan diridhoi. Sebagai muslimah, tentunya saya
mengharapkan seseorang yang menjadi imam saya adalah seseorang yang baik dan
shalih (Alhamdulillah
suamiku baik dan shalih). Pada
dasarnya, Allah telah menciptakan segala sesuatu dan memasangkannya dengan
sesuatu yang sama pantasnya, seperti dalam dalil dikatakan:
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,
dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan
wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang
baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).
Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya
untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah
“clue” kalau jodoh itu adalah cerminan
diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca
Al-quran, baik akhlak dan prilakunya Insya Allah, Allah akan pertemukan juga
dengan orang yang seperti itu.
Persiapan Konsepsional
Menikah berarti beribadah, menikah berarti saya akan
mewujudkan ibadah yang lebih berkualitas dan lebih baik di hadapan Allah.
Menikah mengharuskan kita untuk mampu membentuk generasi baru yang taat
beragama. Yang harus saya lakukan yaitu banyaklah membaca buku dan mempelajari
hal-hal agama yang belum kita ketahui. Terapkan banyak ibadah sunnah dan
biasakanlah untuk menjalaninya agar saat menikah nanti saya mampu menjadi ibu
yang baik bagi anak-anak saya kelak.
Persiapan Kepribadian
Dengan menikah, berarti saya tidak lagi hidup sendirian.
Akan ada seorang laki-laki yang menuntun saya dalam menjalani hidup sesuai
dengan syariah keislaman. Belajar untuk terbuka dan menerima perbedaan dari
kepribadian yang dibawa oleh suami saya kelak, dan teruslah untuk mencoba
mengenalnya lebih jauh. Kepribadian diri yang baik tentunya akan rela menerima
hal-hal baru dalam hidup yang dalam hal ini dikatakan sebagai penerimaan diri
yang baik untuk kepribadian suami saya kelak yang tentunya tidak melulu
memiliki banyak persamaan.
Persiapan Fisik
Menikah berarti kita mencetak generasi baru yang akan
meneruskan perjuangan umat. Setelah menikah saya akan dihadapkan dengan
anak-anak saya yang harus saya rawat dan saya bimbing, fisik haruslah kuat
karena mendidik anak bukanlah hal yang mudah.
Persiapan Material
Saat menjalankan pernikahan, dituntut untuk mampu
mengikutsertakan diri dalam soal pengurusan material. Kewajiban mencari nafkah
adalah hal yang diwajibkan bagi suami, dan sebagai seorang istri, saya harus
mampu melibatkan diri menjadi pengelola keuangan dari nafkah yang dihasilkan
suaminya. Di suatu waktu, saya juga dapat membantu suaminya untuk mencari
nafkah jika memang diperlukan. Yang harus saya lakukan banyak-banyaklah
menggali ilmu tentang wirausaha dan biasakan diri sedini mungkin untuk dapat
berhemat dan cerdas mendahulukan hal-hal yang menjadi prioritas hidup dalam
membelanjakan uang.
Persiapan Sosial
Setelah menikah, maka terjadilah proses pembauran status
sosial dari dua keluarga. Menikahkan seorang muslim dan muslimah berarti juga menyatukan
dua keluarga yang berbeda dalam satu ikatan resmi dalam gerbang pernikahan.
Setelah menikah, status sosial pun akan berubah menjadi istri dari seseorang,
bukan lagi menjadi muslimah yang lajang. Sebagai seorang istri yang taat kepada
suami, saya harus membiasakan diri untuk melibatkan diri pada
aktivitas-aktivitas baru yang melibatkan suami saya dan keluarganya juga
keluarga saya.
“Jika menikah hanya karena MAU saja
berarti itu TERGESA-GESA MENIKAH, sementara MENYEGERAKAN MENIKAH adalah bagi
yang sudah MAMPU”
Semoga
bermanfaat 😍
Selasa, 31 Oktober 2017
Ta'aruf Menuju Pernikahan :-)
Prosese Ta’aruf...
Sebuah pengalaman
pertama dalam hidupku yang ku yakin tak akan mudah terlupakan. Sebuah
pengalaman spiritual nan suci, dimana Allah dan para malaikatnya menjadi saksi.
Sebuah proses pencarian jodoh dengan cara yang Insya Allah baik dan dianjurkan,
sebuah taaruf.
Aku pertama kenal
dengan calon aku pada bulan Februari 2016, kami bertemu disebuah Yayasan Yatim
dan Dhuafa, sebulan kemudian tepat tanggal 25 Maret 2016 ikhwan tersebut
mengajak aku untuk menjalankan hubungan serius.
Disaat usia ku berada
di masa-masa remaja teralihkan dengan masa kedewasaan. Sebuah batas yang kadang
tidak jelas, apakah diri ini masih remaja, ataukah benar-benar sudah dewasa dan
dapat memikul tanggung jawab orang lain, melalui menikah. Tapi, akhirnya waktu
itupun tiba. Sebuah waktu dimana aku memutuskan untuk memulai sebuah proses
suci dan diridhoi oleh Allah.
Sungguh, jika kita bisa
menjalankan tuntunan agama ini sebagaima seharusnya, pastilah kebahagiaan dan
keselamatan yang akan kita dapatkan. Contohnya ya apa yang telah aku lakukan.
Proses taaruf yang benar-benar dijaga cara dan aturan-aturannya. Tak ada
berkhalwat yang bisa menimbulkan fitnah. Tak ada pembicaraan-pembicaraan mesra.
Yang ada hanyalah pembicaraan-pembicaraan yang penting dan memikirkan manfaat
kedepan. Sungguh jauh berbeda dengan konsep pacaran yang dianut beberapa
pemuda-pemudi di dunia ini (mudahan Allah memberikan kita hidayah).
Proses taaruf itu
sendiri difasilitasi oleh seorang murobbi, kebetulan beliau adalah pamanku. Beliau
juga deket dengan calonku waktu itu.
Nah, proses ini
tidaklah mudah bagiku. Alasan paling besar adalah ini kali pertama aku memulai
proses taaruf ini dengan seorang ikhwan. Walaupun terbiasa berbicara dengan
orang lain di depan umum, tapi entah mengapa ketika aku melakukan proses ini,
gugupnya minta ampun. Sambil terus mengucapkan doa dan dzikir dalam hati,
berharap Allah memberikan yang terbaik buatku.
Kami menyepakati untuk
memulai proses ini di bulan April, dan menghadirkan satu orang murobbi yang
dipercaya untuk mengawal seluruh proses ini.
Pada pertemuan ini kami
banyak membahas mengenai visi dan misi keluarga ke depan, kedalaman ilmu agama,
pandangan mengenai karir, menceritakan sifat dan karakter masing, dan alasan
kenapa memilih si calon.
Di akhir pertemuan ini
kami menyimpulkan bahwa kita akan mengambil keputusan untuk menerima pinangan
atau tidak 3 bulan setelahnya. Artinya bulan Juli tepatnya kami akan mendapat
jawaban apakah aku menerimanya sebagai suami ataukah tidak, begitupun dengan dia,
apakah dia akan menerimaku sebagai istrinya atau tidak.
Dalam proses 3 bulan
itu, sungguh bulan-bulan yang tidak mudah bagiku dan juga baginya. Bagaimana
tidak, ini merupakan keputusan besar dalam hidupku. Aku hanya ingin
melakukannya sekali dengan orang yang tepat. Karena itu shalat-shalat
istikharah dan doa menjadi hal-hal yang sering kulakukan dalam 3 bulan itu.
Alhamdulillah jawaban
itu datang dari Allah, semakin hari Allah semakin menguatkan keyakinan ku pada
keputusan ini. Aku akan menerimanya dengan meminta nasehat beberapa orang, baik
yang sudah menikah ataupun belum, semakin mempertebal keyakinanku. Terima kasih
atas dukungannya selama ini.
Hari terus berjalan..
Dalam waktu penantian
itu, kami juga menjaga agar semua prosesnya tetap terjaga ke-ahsan-annya. Tidak
saling sms ataupun menghubungi terkecuali hal-hal yang darurat. Biar hati kami
benar-benar hanya mendapat inspirasi keyakinan dari Allah semata, bukan atas
dasar hawa nafsu semata.
Bulan Juli tiba, kami
akan mendengarkan jawaban masing-masing atas istikharah yang kami lakukan. Dan
forum ini dimulai dari jawaban dia, jawabannya adalah dia tetap pada komitmen
awal, bahwa tak ada yang membuat dia ragu untuk memilihnya, dan dia ingin
proses ini dijajaki ke tahap yang lebih serius, yakni menikah.
Kemudian, giliran
berikutnya adalah jawaban aku. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Aku
sama sekali tidak ragu kalau aku menjadi istrinya, dia bisa membimbing aku dan
calon keluarga kita nanti.
“Tetapi, orang tuaku
masih belum setuju aku menikah sekarang. Lagipula aku masih dalam tahap study
S1. Masih harus menunggu aku keluar dari perkuliahan itu, sekitar 3 tahun lagi.
Lagipula orangtuaku belum tahu kesanggupanmu dalam menafkahiku nanti.”
Lantas, dia
menyampaikan padaku “Hmm, kita sama-sama tahu bahwa Allah punya rencana yang
sangat indah buat diri kita masing-masing. Sebuah rencana yang akan membawa
diri kita pada kebaikan. Aku tahu, kondisi mu sekarang, juga kekhawatiran orang
tuamu apakah aku bisa menafkahi mu kelak. Lagipula mereka memang belum mengenalku.
Kalau begitu, kita sepakat untuk menyudahi proses ini. Aku sangat yakin, jika
kamu adalah istriku nanti, suatu hari kita akan dipertemukan lagi dan akan
dimudahkan jalan menuju kesana. Namun jika tidak, aku juga yakin ada orang lain
yang lebih tepat untukmu dan untukku. Aku hanya ingin yang terbaik.
Mudah-mudahan Allah menjaga hati kita, agar tidak terkotori lagi.”
Forum ini ditutup
dengan pesan dia kepadaku “Jaga diri baik-baik, jika Allah berkehendak kita
menjadi suami-istri nanti, yakinlah, kita akan dipertemukan kembali dalam
sebuah ikatan yang suci, sebuah ikatan yang menyempurnakan separuh dien ini,
yakni pernikahan. Selama proses ini, marilah kita memperbaiki diri
masing-masing dulu. Mulai membicarakan ini ke orang tua masing-masing, menyiapkan
ilmu dan targetan-targetan akhirat, kesiapan mental, dan juga khusus buatku,
akan mempersiapkan kemampuanku dalam finansial untuk menafkahi keluargaku
nanti. Mudahan Allah mendengarkan doa-doa kita ini. Lebih jaga hati dan jaga
pandangan, karena kita sama-sama punya komitmen.”
Pada bulan Agustus, kami membicarakan hal ini kepada
orangtua masing-masing dan dia betemu dengan orangtua aku, begitupun aku
bertemu dengan orangtuanya, akhirnya orangtua pun dengan beberapa pertimbangan
menyetujui proses ta’aruf kami dan lanjut pada tahap khitbah.
Penantian seorang caon istri...
Ya Rabb… berharap keluargaku faham..agar menyegerakan
akad ni..
Sabar dalam komitmen, sabar dalan setiap penantian dan
sabar dalam ujian, itulah yang kurasakan dalam penantian setelah proses
taarufku lancar, dan siap ke pernikahan.
Bagiku ujian ini cukup berat, karena tidak hanya
logika dan perasaanku yang berperan, namun semua panca indera ku pun ikut
berperan..
Ya Rabb.. mudahkan..mudahkan.. dalam penantian ini..
Tidak hanya aku disini yang harap-harap cemas,
melainkan mujahidku juga…
Berfikir bahwa ini ujian awal kita, apakah kita bisa
melewati semuanya dengan fikiran tenang dan menyikapinya jauh lebih dewasa,
seandainya ini semua bisa terlampaui, maka kita berhasil dan ujian yang
didepanpun akan terlewati dengan mudah.
Bismillah kita pasti bisa melewatinya bersama, aku
menantinya, aku yakin mujahidku akan menepati janji itu, akan meredakan semua
kepanikanku saat ini..
Ya Rabb.. lindungi selalu dia dimanapun dia berada,
jaga dan mudahkan langkahnya.. karena aku disini merindukannya.. merindukan
seseorang yang akan mengajakku bertemu dangan Rabbnya.. bersama-sama berjalan
menuju surgaNya.. aminn.
Menuju Pernikahan
Ya Rabb, tak terasa sudah bulan september lagi…
Bulan dimana beliau dan keluarga datang kerumah aku
untuk melaksanakan khitbah ..
Ya saat ni aku sedang menghitung bulan, rasa cemasku
semakin menjadi-jadi. Semakin dekat, rasa cemas itu semakin berdegup. Rabb
kuatkan selalu hamba. Proses persiapan pernikahan kami 4 bulan, berharap Engkau selalu mendengar
doa-doa kami.
Kami yakin pada janjimu ya Allah ya rabbal alamiin.
Inilah proses taaruf kami, kisah taarufku yang begitu
menguras energi perasaanku, menyita seluruh perhatianku selama 7 bulan.
Berawal di bulan Februari pertemuanku dengan dia,
sebuah kejutan dari Allah swt, data taaruf yang tak kusangka. Itulah taaruf
yang berkah dan indah serta sukses dalam kehidupanku.
Lalu bulan Agustus pertemuan antara dia dengan orang
tuaku dan aku dengan orang tua dia, untuk mengenal lebih dekat. Langkah
selanjutnya, setelah taaruf, maka kami khitbah dulu di bulan September,
tepatnya ahad 26 2016. Maka penantian pun begitu indah dan banyak ujian dalam
perjalanan suci kami.
Kami menjalani proses taaruf dengan bekal keyakinan, Allah
akan memudahkan jalan kami, Allah akan memberikan pertolongan pada niat
suci kami, Allah akan menguatkan langkah perjuangan kami, menguatkan keistiqomahan
kami untuk selalu berada di jalan da’wahNya.
Dan aqad ijab qobul di pelaminan, pada hari sabtu 7
Januari 2017 adalah buktiNya.
Langganan:
Postingan (Atom)
