Sabtu, 20 Januari 2018

Metamorphoself

Seperti ulat yang ingin menjadi KUPU-KUPU..
Tidaklah mudah untuk menjadi terlihat indah, penuh rintangan dan keistiqomahan..
Look - lihatlah baik-baik dirimu yang ingin menuai keindahan yang baru dalam berhijrah..
Lisent - Dengarlah suara hati mu ketika mulai berkejolak membakar hati ketika telah banyak orang di sekitar mu telah berhijrah..
And Feel - dan rasakanlah bisikan-bisikan Sang Ilahi yang merayumu untuk menemukan KEBAHAGIAAN ABADI..
KINI Bukan saatnya untuk Terdiam..
Lihat dan Buka mata hati mu..

Hijrah merupakan ujian dan cobaan, karena setiap orang yang hidup pasti akan mendapatkan suatu cobaan, terutama bagi orang yang beriman, sebesar apa keimanan seseorang maka sebesar itu pula cobaan, ujian dan fitnah yang akan dihadapi. Meninggalkan harta, keluarga, sanak famili dan tanah air merupakan cobaan yang sangat berat, apalagi tempat yang dituju masih mengambang, sangat tidak bisa dibayangkan akan kerasnya ujian dan cobaan yang dihadapi saat manusia sudah mengikrarkan diri sebagai hamba Allah. (16:110)

Buku tentang sebuah makna dan perjalanan hijrah, penuh kisah inspiratif, kaya akan ilmu dan motivasi, kisah nyata dari para penulis 😊
Spesial untuk Siapapun yang ingin,sedang dan BERUSAHA istiqamah dalam berHIJRAH.
Karena HIJRAH itu MUDAH, yang SULIT adalah mempertahankannya. 
Alhamdulillah ada 9 kisah TRUE STORY tentang hijrah.
Ada yang membahas tentang islamophobia, kematian, menikah muda, asmara pernikahan dan masih banyak kisah lainnya.

More info : 085697185811 (WhatsApp)

#timpenulis #karyamojang #bukuberfaedah #menulisituasyik #karyabersama #hijrahasyik #istiqomah #hadiahsyurga #metamorfoselfasyik  #hijrahkeren #bukukeren #muslimahonly #bertholabulilmi #hijrahituproses #mojangkreatif #berubahlebihbaik #hijrahhakiki #hijrahselamat #bahagiaduniaakhirat #fastabiqulkhoirats

Jumat, 24 November 2017

Perjuangan demi Sang Buah Hati



Caesar adalah melahirkan dengan melakukan sayatan pada perut untuk mengeluarkan bayi (kesimpulan saya). Topik ini menjadi sangat menarik untuk para calon ibu yang sudah divonis harus melahirkan secara caesar karena alasan medis dll, terutama untuk para ibu-ibu muda yang baru pertama kali hamil dan akan menjalani persalinan yang pertama. Pastinya sangat deg-degan dan menimbulkan berbagai pertanyaan bagaimana ya nanti prosesnya? sesakit apa ya? bagaimana ya rasanya dibius? dan masih banyak lagi. Berbagai hal akan dilakukan para calon ibu muda untuk mencari info baik lewat buku ataupun internet agar persiapan persalinan lebih matang. Sama seperti yang saya lakukan. Disini saya akan menceritakan dari kenapa saya harus melakukan operasi caesar, sampai detail proses persalinannya.
Di umur kehamilan ke-32 posisi bayi saya masih sungsang, ini diketahui dari hasil usg. Dokter menyuruh saya untuk nungging dengan dada menyandar alas minimal 5x dalam sehari, jika sampai umur 39 minggu bayi belum berada di posisinya terpaksa harus melahirkan secara caesar kata nya. Saya mulai cemas, karena persiapan mental yang saya tanamkan dari awal adalah untuk melahirkan normal, bagaimana harus mengejan, bagaimana mempersiapkan pernafasan yang bagus, bahkan saya sudah banyak membaca artikel-artikel melahirkan secara normal. Pastinya di dunia ini lebih banyak wanita yang ingin melahirkan normal daripada caesar.
Usaha yang saya lakukan ternyata tidak membuahkan hasil. Di umur kehamilan 37 minggu hasil usg masih sama. Mau tak mau saya harus melakukan operasi sebelum minggu ke 40. Karena kata artikel-artikel yang saya baca jika ingin melakukan operasi caesar lebih baik dimajukan dari hpl (hari perkiraan lahir), takutnya nanti keburu lahir dan beresiko tinggi.
Hpl saya jatuh pada tanggal 10 okt 2017. Saya dan orangtua berencana akan periksa 1 kali lagi dan akan konsultasi dengan dokter kapan waktu yang tepat, tentunya sebelum tanggal 10.
Sore hari, tanggal 4 Okt 2017 saya periksa usg, tanpa konsultasi akhirnya dokter langsung mengatakan "besok operasi ya, malam ini langsung dirawat, silahkan pulang dulu untuk mempersiapkan segalanya tapi sebelum pulang cek darah dulu". Perasaan saya ketika itu cemas, takut, dagdigdug dan suami saya berada di bdg pada malam itu langsung berangkat menuju bogor tempat saya akan melahirkan.
Tibalah malam hari di RS, karena tidak ada suami, ayah saya langsung diminta untuk mengisi data-data dan perjanjian dari RS. Pukul 23:00, saya masuk ruang IGD dan perawat langsung memasangkan infus dan karteter (pertama kalinya saya dipasang alat ini). Bagi yang belum pernah dipasang infus, rasanya hanya seperti di suntik, hanya saja yang masuk ke pembuluh darah jarumnya lebih lunak. Rasanya dipasang karteter menurut saya tidak begitu sakit, hanya rasanya aneh, geli. Pemasangan karteter ini juga pengalaman pertama bagi saya, saat ingin BAK rasanya urin seperti tidak bisa keluar, ternyata sudah penuh saja kantongnya *gak kerasa, hehe.
Pukul 00:00 saya dibawa keruang perawat untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk operasi jam 08:00, sayangnya saya sulit sekali untuk tidur bahkan hanya tidur kurang lebih 2 jam, sebelum operasi saya mulai berpuasa dari jam 02:00..
Pagi pun tiba..
Pukul 07:30 kursi roda di dorong, perawat bilang 'berdoa ya teh supaya lancar nanti operasinya, supaya sehat semua'. Haduh, malah tambah bikin merinding. Saya terus berdoa tidak henti, disela senyum dengan suami pun dalam hati saya juga sambil berdoa terus. Takut saya ga kuat hehe. Suami saya meminta izin untuk ikut masuk ruang operasi tapi perawat tidak mengizinkan (sedih rasanya tdk ada yang mendapingi).
Masuk ruang operasi saya bilang sama suami dan keluarga semua "doain ya, maafin semua kesalahan dea" semua menjawab "pasti di doakan, jgn tegang". Saya melihat suami dengan mata yang penuh harap dan senyuman sambl berkata  'kuat ya bun'. Memang beda banget senyum suami saya waktu itu, sepertinya ada ketakutan tapi dia mencoba menutupinya. Sayapun begitu, bahkan sempat berfikir jika saya nanti tidak selamat berarti ini terakhir kalinya saya melihat suami saya, hiks ..
Di dalam ruang operasi saya diminta ganti baju operasi dibantu perawat, baju hijau gitu dipakainya dari depan. Belakang hanya di tali. Jadi yang melekat di badan hanya baju operasi itu saja sama kap kepala.
Saya sudah diminta berbaring di tempat tidur dorongan menunggu detik-detik pindah ruang. Para asisten dokter seliweran kesana kemari mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan. Pakaian hijau-hijau lengkap dengan sarung tangan karet, masker dan kap kepala (ga tau namanya). Suasana semakin mencekam. Ruangan sangat dingin.
Pukul 09:00. Tibalah waktunya tempat tidur didorong. Semakin pasrah saja, hanya bisa berdoa terus 'ya allah lancarkanlah mudahkanlah, kuatkanlah hamba, beri waktu dan kesempatan hamba untuk merasakan menjadi orangtua', hmm banyaknya permintaan seorang hamba, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatanNya. Ternyata kamar untuk operasi lebih dingin dari ruang operasi. Alat-alat operasi sudah dijajar rapi. Lampu operasi sudah terang benderang. Tubuh saya diangkat dipindahkan ke meja operasi. Rasa takut yang melanda sudah menjadi kepasrahan. Yang saya fikirkan hanya anak saya pasti selamat, anak saya pasti lucu, ini tidak akan lama, sebentar lagi perut saya akan segera mengecil, saya akan bertemu dengan si kecil. Fikiran yang menurut saya dapat membantu mengurangi kegrogian. Jempol saya mulai dipasang alat untuk mengecek denyut nadi, seperti penjepit yang ada kabelnya dan tersalur ke monitor dengan bunyi 'tiit tiit tiit', hidung saya dipasang oksigen, tangan saya dipasang tensi darah. Untuk alat lain saya lupa masih ada apa saja. Selanjutnya saya diminta duduk membungkuk dengan kedua tangan diatas paha dan badan dilemaskan seolah-olah tidur, agar tulang belakang yang akan disuntik tidak tegang. Proses pembiusan dimulai, tulang belakang bagian bawah disuntik, rasanya tidak begitu sakit, hanya seperti digigit semut dan setelah itu terasa dingin seperti ada cairan yang masuk. Setelah itu saya diminta berbaring. Tepat diatas dada saya dipasang kain berwarna hijau untuk menutupi bagian perut kebawah, sepertinya bertujuan agar pasien tidak melihat proses penyayatan yang takutnya akan mempengaruhi psikis pasien. Bagian paha ke bawah rasanya seperti kesemutan. Dokter mulai membersihkan daerah dibawah perut sampai kaki. Rasa kesemutan lama-lama berubah menjadi tebal, tapi usapan tangan dokter masih terasa. Dokter meminta saya mengangkat kedua kaki, rasanya berat dan kaki saya hanya bisa naik sekitar 10cm. Selanjutnya kaki kanan dan kiri bergantian. Semakin berat dan saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi.
Operasi akan dilakukan, dokter mengatakan 'siap ya de, berdoa'.
Terdapat 4 dokter dan 2 suster dalam ruangan, mereka mulai berdoa bersama 'Bismillah', sayatan hanya terasa seperti kalau perut kita di sentuh dengan jari agak menekan tanpa terkena kuku. Tapi saya tidak bisa membayangkan seberapa banyak darah yang keluar. Setelah itu rasanya perut seperti ditarik kesana kemari, badan saya sampai bergoyang-goyang. Tidak lama setelah itu saya mendengar tangisan pertama anak saya. 'Subhanallah..' Langsung hilang ketakutan-ketakutan yg terpendam. Bahagianya tidak bisa diungkapkan lagi, saya berkali-kali mengucap alhamdulillah. Dokter bilang 'de selamat ya, anaknya laki2, ganteng, tinggi, beratnya 2.8 kg, normal ya'. Setelah bayi dikeluarkan mulai terasa sulit bernafas, pusing, dan mual. Dokter langsung memperhatikan denyut jantung saya dan memberi bantal agar nafasnya bisa teratur, disinilah saya mulai pasrah kepada Allah. Selesai membersihkan bagian yang dijahit, saya langsung muntah karena efek obat bius, Operasi ini berlangsung selama satu jam, bayi saya lahir pada pukul 09:25. Setelah operasi selesai, saya diangkat kembali ke tempat tidur dorong, dengan kaki yang masih terasa tebal. Menunggu di ruang operasi, mungkin untuk pemantauan pasca operasi kali ya. Setelah 2 jam saya dipindah lagi ke tempat tidur dorong yang lain untuk dibawa ke ruang rawat inap. Di luar ruang operasi sudah ada keluarga dan saudara saya.
Muka saya kembali pucat setelah obat bius habis. Karena saya baru merasakan sakitnya bekas sayatan, terasa panas, saya banyak mengeluarkan keringat seperti orang habis lari, saya juga merasa sangat kehausan, selain itu sulit untuk menarik nafas panjang karena perut sakit mengalami tekanan.
Selama 24 jam saya tidak diperbolehkan untuk gerak hanya boleh belajar angkat kaki. Hari kedua, alat  infus mulai dilepas karna tangan saya bengkak, tapi masih pakai karteter. Saya tidak bisa mandi karena masih belum bisa bangun dari tempat tidur, baru belajar miring kanan kiri. Jadi selama di RS saya mandinya cuma di lap-lap aja sama suami, hehe. Untunglah suami saya gak jijikan orangnya. Padahal nifas masih sangat banyak diminggu pertama pasca melahirkan. Saya memang tidak salah pilih suami, sangat bisa diandalkan. Hari ketiga karteter saya dilepas, saya mulai belajar jalan, mulai ke toilet sendiri pelan-pelan meski sakit tapi saya paksakan demi sembuh dan bisa pulang kerumah, karena kalau saya belum bsa banyak gerak tidak di izinkan untuk pulang, dan  hari ahad siang dokter dan bidan mengganti  perban jahitan saya sehingga sorenya saya kembali pulang kerumah.
Itulah pengalaman melahirkan caesar anak pertama saya. Bagi para calon ibu muda yang akan menjalani operasi caesar tetap semangat ya, kalian pasti bisa. Tidak terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan kok. Karena mau tak mau kita harus tetap menjalaninya. Semoga bermanfaat :-)

Senin, 13 November 2017

I’m pregnant :-)


Yey !

Diluar dugaan, kehamilan datang secepat kilat, kehamilan terjadi tak lama setelah akad. Benar saja, karena saat menikah saya sedang menstruasi. Dan, Jreeeng! Alhamdulillah, Allah langsung menitipkan malaikat kecil pada rahim saya.

Bagaimana rasanya mendapat amanah seperti itu?
Rasanya tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Pegel, seneng, mual, bersyukur, bahagia, haru tak terkira.
Begitulah.

Untuk ibu-ibu pemula seperti saya, kebingungan jelas melanda. Betapa tidak, Euforia menjadi istri masih melekat erat. Penambahan tanggung jawab, peralihan peran dan fungsi masih membuat kacau jam kerja tubuh. Setiap hari, biasanya dihabiskan untuk bermalas-malasan. Lantas, harus menyesuaikan diri untuk menjadi partner laki-laki paling ganteng sejagad setelah ayah 😀
Banyak suka-duka dialami selama membina rumah tangga yang masih seumur jagung ini. Alhamdulillah, masih diberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalani dengan sebaik-baiknya, setiap hari tantangan dimulai dari bangun pagi, masak dan kuliah (meski dalam keadaan hamil).
Belum selesai kegembiraan-kegembiraan menjadi istri (percayalah, manten baru lebih banyak gembiranya ketimbang sedihnya), saya kemudian mendapati tubuh yang kian melemah. Badan demam, pusing, mual, dan pegal..

Saat itu suami sedang diluar kota karena tugas dari kantor, saya fikir saya hanya sakit biasa tapi ternyata sakitnya tak kunjung reda, akhirnya saya coba beli test-pack untuk memastikan sebenernya ada apa dengan tubuh saya ini?
Benarlah, ternyata semua itu adalah tanda-tanda kehamilan :D

Yey!
Akhirnya, keluarga kecil yang baru kami bina ini diamanahkan seorang malaikat mungil yang masih dalam proses pembentukan dalam rahim.
Senang ya senang sekali.
Tapi ternyata, menyambut kehamilan memang memerlukan energi tinggi dan kesabaran tingkat dewa. Tak jarang saya banyak mengeluh. Bayangkan, kalau sakit sedikit saja, saya masih merengek-rengek (meski seringnya merawat diri sendiri di kosan), tapi saya memang cenderung tidak tahan sakit, pusing, manja. Pokoknya hal-hal yang masih berhubungan dengan anak kecil bisa disangkutkan ke saya, perihal durabilitas menahan sakit (nggak bisa banget kena sakit).

Nah kemudian, gabungkan dengan pengalaman hamil trimester pertama.
Gejalanya adalah setiap hari mual terus melanda. Untungnya, saya hanya dua bulan. Ngantuk terus, malas, tidak nafsu makan, sampai bobot saya turun dan hanya tersisa 39 kg.
Ketika diperiksa di bidan, alhamdulillah saya masih dinyatakan sehat-sehat saja dan bobot tubuh masih bisa dimaklumi sebagai ibu hamil pemula. Bidan hanya menyarankan untuk minum obat antimual supaya saya nafsu makan (dan nggak diminum juga), tak lupa menelan tablet penambah darah, sesaat sebelum tidur.Memang gejala pada tiap ibu itu berbeda. Ada bahkan yang mualnya dari trimester pertama hingga mau melahirkan. Alhamdulillah, saya cuma dua bulan.
Bagaimana soal ngidam?
Saya tidak terlalu harus banget saat itu ada apa yang saya inginkan, alhamdulillah saya ngidamnya tidak yang menyusahkan suami. Paling saya pengennya minum kelapa muda, durian (meski ga baik untuk ibu hamil), makanan lainnya, daan selalu pengennya jalan-jalan :-D
Bawaan bayinya apa?
Konon, tiap ibu hamil pasti bertingkah agak lain dari biasanya, ini disebut “bawaan bayi”. Kalau saya? Jadi makin malas (padahal udah malas kan ya), tapi wajah jadi makin berinar, gampang nangis kalau dibentak, tidak suka bising, kalau dengar keramaian dan nada-nada tinggi pasti stress, tidak suka berada di tempat ramai yang banyak orang asingnya, kayaknya itu aja deh.

Setelah dua bulan tersiksa lahir-batin, akhirnya pelangi datang juga.
Tepat pada bulan ketiga, gejala-gejala khas ibu hamil perlahan menghilang. Perut pun makin membuncit, mengeras, enak dielus-elus, apalagi sama suami #eh.
Saya jadi makin bangga menjadi ibu hamil, makin bahagia, makin disayang suami, dan makin lincah bergerak meski gampang capek. Bayinya juga nggak rewel, kalau ibunya repot, misal di rumah sendirian, kuliah, banyak tugas. Nggak bikin mual, nggak bikin capek, ibunya jadi bisa masak, beberes, dan menjalani hari seperti gadis muda pada umumnya 😀
Bulan ketiga adalah bulan surga bagi saya.
Di bulan ini, syukur mulai terpanjatkan, sudah jarang mengeluh. Kuliah juga sudah enerjik, udah bisa jalan-jalan sama sahabat, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan lainnya.
Alhamdulillah.
Konon, ketika seorang ibu berhasil melalui trimester pertamanya, ia boleh bersyukur. Masa kritis telah lewat. Pembentukan organ-organ vital telah selesai. Sekarang, ibu hanya menunggu jabang bayinya membesar, menyempurnakan bentuk, mendapat anugerah roh dari Illahi, dan mempersiapkan diri untuk lahir beberapa bulan ke depan.
Untuk trimester dua dan tiga alhamdulillah bayi dan ibunya dalam keadaan sehat, namun saat itu kondisi bayi dalam keadaan sungsang dan diharuskan banyak beraktivitas yang membuat kepala bayi berputar, qodarullah semua usaha telah dilakukan namun trimester tiga kondisi bayi tetap sungsang.

Ternyata, pengalaman menjadi seorang ibu lebih menarik, ketimbang menjadi istri. Karena, menjadi ibu, berarti menjadi perempuan istimewa untuk dua orang sekaligus: anak dan suami..

Sabtu, 04 November 2017

About Pernikahan ^_^

Pernikahan merupakan hal sakral yang baiknya hanya dilakukan sekali seumur hidup. Beberapa hal perlu dipersiapkan sedini mungkin sebelum menginjak gerbang pernikahan. Islam telah memerintahkan kepada hambanya untuk melengkapi separuh dari agamanya dengan menikah. Menikah adalah bentuk konsistensi seumur hidup yang juga merupakan ibadah. Dalam menjalankan ibadah, seorang hamba dituntut untuk menyanggupinya dengan sesuatu yang tidak boleh sembarangan. Diperlukan persiapan dan kesiapan diri yang baik untuk melaksanakan pernikahan.
Saat proses ta’aruf, Insya Allah atas izin Allah dan semoga Allah meridhoi, saya bersedia menikah sebagaimana dalam hadist ‘’jika datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhoi agamanya, maka nikahkanlah. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang besar’’ (HR.Tirmidzi).

Begitupun hadist yang mengatakan “Barang siapa   menikah karena taat kepada Allah maka ia akan mencukupi dan memeliharanya.”

Serta dalam hadist lain “Barang siapa yang menikah karena menjaga diri dari zina, maka pertolongan Allah akan dating kepadanya.”

Beberapa hadist tersebut akhirnya saya siap menikah karena ibadah yang Allah dan rasulnya perintahkan serta saya menikah karena-Nya.

Menikah karena Allah

“Ada empat perkara yang termasuk Sunnah para Rasul: rasa-malu, memakai wewangian, bersiwak, dan menikah.” (HR. At-Tirmidzi)

Dalam salah satu sabdanya Rasulullah SAW mewasiatkan kalau menikah adalah sunnahnya para rasul, di hadits lain Rasulullah SAW juga bersabda kalau pernikahan adalah penyempurnaan dari sebuah hadits di kitab  ash-Shahiihah yang dihasankan oleh syeikh al-bani :

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”

Sementara Allah SWT memerintahkan menikah kepada hamba-hambanya sebagaimana termaktub dalam surah an-nur ayat 32 :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya…”

Itulah sebagian kecil dari perintah Allah dan Rasulnya perihal pernikahan, jelas sudah kalau menikah adalah sebuah ibadah yang memang Allah anjurkan. Sesuatu yang awalnya terlarang bahkan haram menjadi halal dan berlimpah pahala kebaikan setelah halal melalui akad pernikahan, itulah indahnya pernikahan. Ada pahala kebaikan dalam setiap detik ketaatan seorang istri kepada suaminya dan juga ada pahala kebaikan di setiap detik kasih sayang seorang suami kepada istrinya.

Mungkin ada beberapa hal yang menurut saya yang harus saya siapkan untuk menuju pernikahan, diantaranya :

Persiapan Spiritual

Islam telah menjadikan pernikahan sebagai suatu gerbang untuk mempertemukan seorang muslim dan seorang muslimah dan menyatukannya dalam satu ikatan yang halal dan diridhoi. Sebagai muslimah, tentunya saya mengharapkan seseorang yang menjadi imam saya adalah seseorang yang baik dan shalih (Alhamdulillah suamiku baik dan shalih). Pada dasarnya, Allah telah menciptakan segala sesuatu dan memasangkannya dengan sesuatu yang sama pantasnya, seperti dalam dalil dikatakan:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik….” (QS An-Nuur: 26).

Di ayat diatas Allah jelaskan laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik begitu juga sebaliknya. Disini kita mendapatkan sebuah “clue”  kalau jodoh itu adalah cerminan diri kita, ia sebagaimana diri kita. Jika kita shaleh, taat, suka membaca Al-quran, baik akhlak dan prilakunya Insya Allah, Allah akan pertemukan juga dengan orang yang seperti itu.

Persiapan Konsepsional

Menikah berarti beribadah, menikah berarti saya akan mewujudkan ibadah yang lebih berkualitas dan lebih baik di hadapan Allah. Menikah mengharuskan kita untuk mampu membentuk generasi baru yang taat beragama. Yang harus saya lakukan yaitu banyaklah membaca buku dan mempelajari hal-hal agama yang belum kita ketahui. Terapkan banyak ibadah sunnah dan biasakanlah untuk menjalaninya agar saat menikah nanti saya mampu menjadi ibu yang baik bagi anak-anak saya kelak.

Persiapan Kepribadian

Dengan menikah, berarti saya tidak lagi hidup sendirian. Akan ada seorang laki-laki yang menuntun saya dalam menjalani hidup sesuai dengan syariah keislaman. Belajar untuk terbuka dan menerima perbedaan dari kepribadian yang dibawa oleh suami saya kelak, dan teruslah untuk mencoba mengenalnya lebih jauh. Kepribadian diri yang baik tentunya akan rela menerima hal-hal baru dalam hidup yang dalam hal ini dikatakan sebagai penerimaan diri yang baik untuk kepribadian suami saya kelak yang tentunya tidak melulu memiliki banyak persamaan.

Persiapan Fisik

Menikah berarti kita mencetak generasi baru yang akan meneruskan perjuangan umat. Setelah menikah saya akan dihadapkan dengan anak-anak saya yang harus saya rawat dan saya bimbing, fisik haruslah kuat karena mendidik anak bukanlah hal yang mudah.

Persiapan Material

Saat menjalankan pernikahan, dituntut untuk mampu mengikutsertakan diri dalam soal pengurusan material. Kewajiban mencari nafkah adalah hal yang diwajibkan bagi suami, dan sebagai seorang istri, saya harus mampu melibatkan diri menjadi pengelola keuangan dari nafkah yang dihasilkan suaminya. Di suatu waktu, saya juga dapat membantu suaminya untuk mencari nafkah jika memang diperlukan. Yang harus saya lakukan banyak-banyaklah menggali ilmu tentang wirausaha dan biasakan diri sedini mungkin untuk dapat berhemat dan cerdas mendahulukan hal-hal yang menjadi prioritas hidup dalam membelanjakan uang.

Persiapan Sosial

Setelah menikah, maka terjadilah proses pembauran status sosial dari dua keluarga. Menikahkan seorang muslim dan muslimah berarti juga menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam satu ikatan resmi dalam gerbang pernikahan. Setelah menikah, status sosial pun akan berubah menjadi istri dari seseorang, bukan lagi menjadi muslimah yang lajang. Sebagai seorang istri yang taat kepada suami, saya harus membiasakan diri untuk melibatkan diri pada aktivitas-aktivitas baru yang melibatkan suami saya dan keluarganya juga keluarga saya.

“Jika menikah hanya karena MAU saja berarti itu TERGESA-GESA MENIKAH, sementara MENYEGERAKAN MENIKAH adalah bagi yang sudah MAMPU”

Semoga bermanfaat 😍

Selasa, 31 Oktober 2017

Ta'aruf Menuju Pernikahan :-)

Prosese Ta’aruf...
Sebuah pengalaman pertama dalam hidupku yang ku yakin tak akan mudah terlupakan. Sebuah pengalaman spiritual nan suci, dimana Allah dan para malaikatnya menjadi saksi. Sebuah proses pencarian jodoh dengan cara yang Insya Allah baik dan dianjurkan, sebuah taaruf.

Aku pertama kenal dengan calon aku pada bulan Februari 2016, kami bertemu disebuah Yayasan Yatim dan Dhuafa, sebulan kemudian tepat tanggal 25 Maret 2016 ikhwan tersebut mengajak aku untuk menjalankan hubungan serius.
Disaat usia ku berada di masa-masa remaja teralihkan dengan masa kedewasaan. Sebuah batas yang kadang tidak jelas, apakah diri ini masih remaja, ataukah benar-benar sudah dewasa dan dapat memikul tanggung jawab orang lain, melalui menikah. Tapi, akhirnya waktu itupun tiba. Sebuah waktu dimana aku memutuskan untuk memulai sebuah proses suci dan diridhoi oleh Allah.

Sungguh, jika kita bisa menjalankan tuntunan agama ini sebagaima seharusnya, pastilah kebahagiaan dan keselamatan yang akan kita dapatkan. Contohnya ya apa yang telah aku lakukan. Proses taaruf yang benar-benar dijaga cara dan aturan-aturannya. Tak ada berkhalwat yang bisa menimbulkan fitnah. Tak ada pembicaraan-pembicaraan mesra. Yang ada hanyalah pembicaraan-pembicaraan yang penting dan memikirkan manfaat kedepan. Sungguh jauh berbeda dengan konsep pacaran yang dianut beberapa pemuda-pemudi di dunia ini (mudahan Allah memberikan kita hidayah).

Proses taaruf itu sendiri difasilitasi oleh seorang murobbi, kebetulan beliau adalah pamanku. Beliau juga deket dengan calonku waktu itu.
Nah, proses ini tidaklah mudah bagiku. Alasan paling besar adalah ini kali pertama aku memulai proses taaruf ini dengan seorang ikhwan. Walaupun terbiasa berbicara dengan orang lain di depan umum, tapi entah mengapa ketika aku melakukan proses ini, gugupnya minta ampun. Sambil terus mengucapkan doa dan dzikir dalam hati, berharap Allah memberikan yang terbaik buatku.

Kami menyepakati untuk memulai proses ini di bulan April, dan menghadirkan satu orang murobbi yang dipercaya untuk mengawal seluruh proses ini.
Pada pertemuan ini kami banyak membahas mengenai visi dan misi keluarga ke depan, kedalaman ilmu agama, pandangan mengenai karir, menceritakan sifat dan karakter masing, dan alasan kenapa memilih si calon.
Di akhir pertemuan ini kami menyimpulkan bahwa kita akan mengambil keputusan untuk menerima pinangan atau tidak 3 bulan setelahnya. Artinya bulan Juli tepatnya kami akan mendapat jawaban apakah aku menerimanya sebagai suami ataukah tidak, begitupun dengan dia, apakah dia akan menerimaku sebagai istrinya atau tidak.

Dalam proses 3 bulan itu, sungguh bulan-bulan yang tidak mudah bagiku dan juga baginya. Bagaimana tidak, ini merupakan keputusan besar dalam hidupku. Aku hanya ingin melakukannya sekali dengan orang yang tepat. Karena itu shalat-shalat istikharah dan doa menjadi hal-hal yang sering kulakukan dalam 3 bulan itu.
Alhamdulillah jawaban itu datang dari Allah, semakin hari Allah semakin menguatkan keyakinan ku pada keputusan ini. Aku akan menerimanya dengan meminta nasehat beberapa orang, baik yang sudah menikah ataupun belum, semakin mempertebal keyakinanku. Terima kasih atas dukungannya selama ini.

Hari terus berjalan..
Dalam waktu penantian itu, kami juga menjaga agar semua prosesnya tetap terjaga ke-ahsan-annya. Tidak saling sms ataupun menghubungi terkecuali hal-hal yang darurat. Biar hati kami benar-benar hanya mendapat inspirasi keyakinan dari Allah semata, bukan atas dasar hawa nafsu semata.

Bulan Juli tiba, kami akan mendengarkan jawaban masing-masing atas istikharah yang kami lakukan. Dan forum ini dimulai dari jawaban dia, jawabannya adalah dia tetap pada komitmen awal, bahwa tak ada yang membuat dia ragu untuk memilihnya, dan dia ingin proses ini dijajaki ke tahap yang lebih serius, yakni menikah.
Kemudian, giliran berikutnya adalah jawaban aku. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Aku sama sekali tidak ragu kalau aku menjadi istrinya, dia bisa membimbing aku dan calon keluarga kita nanti.
“Tetapi, orang tuaku masih belum setuju aku menikah sekarang. Lagipula aku masih dalam tahap study S1. Masih harus menunggu aku keluar dari perkuliahan itu, sekitar 3 tahun lagi. Lagipula orangtuaku belum tahu kesanggupanmu dalam menafkahiku nanti.”
Lantas, dia menyampaikan padaku “Hmm, kita sama-sama tahu bahwa Allah punya rencana yang sangat indah buat diri kita masing-masing. Sebuah rencana yang akan membawa diri kita pada kebaikan. Aku tahu, kondisi mu sekarang, juga kekhawatiran orang tuamu apakah aku bisa menafkahi mu kelak. Lagipula mereka memang belum mengenalku. Kalau begitu, kita sepakat untuk menyudahi proses ini. Aku sangat yakin, jika kamu adalah istriku nanti, suatu hari kita akan dipertemukan lagi dan akan dimudahkan jalan menuju kesana. Namun jika tidak, aku juga yakin ada orang lain yang lebih tepat untukmu dan untukku. Aku hanya ingin yang terbaik. Mudah-mudahan Allah menjaga hati kita, agar tidak terkotori lagi.”

Forum ini ditutup dengan pesan dia kepadaku “Jaga diri baik-baik, jika Allah berkehendak kita menjadi suami-istri nanti, yakinlah, kita akan dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan yang suci, sebuah ikatan yang menyempurnakan separuh dien ini, yakni pernikahan. Selama proses ini, marilah kita memperbaiki diri masing-masing dulu. Mulai membicarakan ini ke orang tua masing-masing, menyiapkan ilmu dan targetan-targetan akhirat, kesiapan mental, dan juga khusus buatku, akan mempersiapkan kemampuanku dalam finansial untuk menafkahi keluargaku nanti. Mudahan Allah mendengarkan doa-doa kita ini. Lebih jaga hati dan jaga pandangan, karena kita sama-sama punya komitmen.”

Pada bulan Agustus, kami membicarakan hal ini kepada orangtua masing-masing dan dia betemu dengan orangtua aku, begitupun aku bertemu dengan orangtuanya, akhirnya orangtua pun dengan beberapa pertimbangan menyetujui proses ta’aruf kami dan lanjut pada tahap khitbah.

Penantian seorang caon istri...
Ya Rabb… berharap keluargaku faham..agar menyegerakan akad ni..
Sabar dalam komitmen, sabar dalan setiap penantian dan sabar dalam ujian, itulah yang kurasakan dalam penantian setelah proses taarufku lancar, dan siap ke pernikahan.
Bagiku ujian ini cukup berat, karena tidak hanya logika dan perasaanku yang berperan, namun semua panca indera ku pun ikut berperan..
Ya Rabb.. mudahkan..mudahkan.. dalam penantian ini..
Tidak hanya aku disini yang harap-harap cemas, melainkan mujahidku juga…
Berfikir bahwa ini ujian awal kita, apakah kita bisa melewati semuanya dengan fikiran tenang dan menyikapinya jauh lebih dewasa, seandainya ini semua bisa terlampaui, maka kita berhasil dan ujian yang didepanpun akan terlewati dengan mudah.
Bismillah kita pasti bisa melewatinya bersama, aku menantinya, aku yakin mujahidku akan menepati janji itu, akan meredakan semua kepanikanku saat ini..
Ya Rabb.. lindungi selalu dia dimanapun dia berada, jaga dan mudahkan langkahnya.. karena aku disini merindukannya.. merindukan seseorang yang akan mengajakku bertemu dangan Rabbnya.. bersama-sama berjalan menuju surgaNya.. aminn.

Menuju Pernikahan
Ya Rabb, tak terasa sudah bulan september lagi…
Bulan dimana beliau dan keluarga datang kerumah aku untuk melaksanakan khitbah ..
Ya saat ni aku sedang menghitung bulan, rasa cemasku semakin menjadi-jadi. Semakin dekat, rasa cemas itu semakin berdegup. Rabb kuatkan selalu hamba. Proses persiapan pernikahan kami  4 bulan, berharap Engkau selalu mendengar doa-doa kami.
Kami yakin pada janjimu ya Allah ya rabbal alamiin.
Inilah proses taaruf kami, kisah taarufku yang begitu menguras energi perasaanku, menyita seluruh perhatianku selama 7 bulan.
Berawal di bulan Februari pertemuanku dengan dia, sebuah kejutan dari Allah swt, data taaruf yang tak kusangka. Itulah taaruf  yang berkah dan indah  serta sukses dalam kehidupanku.
Lalu bulan Agustus pertemuan antara dia dengan orang tuaku dan aku dengan orang tua dia,  untuk mengenal lebih dekat. Langkah selanjutnya, setelah taaruf,  maka kami khitbah dulu di bulan September, tepatnya ahad 26 2016. Maka penantian pun begitu indah dan banyak ujian dalam perjalanan suci kami.
Kami menjalani proses taaruf dengan bekal keyakinan, Allah akan memudahkan jalan kami, Allah akan memberikan pertolongan  pada niat suci kami, Allah akan menguatkan langkah perjuangan kami, menguatkan keistiqomahan kami untuk selalu berada di jalan da’wahNya. 
Dan aqad ijab qobul di pelaminan, pada hari sabtu 7 Januari 2017 adalah buktiNya.