Selasa, 31 Oktober 2017

Ta'aruf Menuju Pernikahan :-)

Prosese Ta’aruf...
Sebuah pengalaman pertama dalam hidupku yang ku yakin tak akan mudah terlupakan. Sebuah pengalaman spiritual nan suci, dimana Allah dan para malaikatnya menjadi saksi. Sebuah proses pencarian jodoh dengan cara yang Insya Allah baik dan dianjurkan, sebuah taaruf.

Aku pertama kenal dengan calon aku pada bulan Februari 2016, kami bertemu disebuah Yayasan Yatim dan Dhuafa, sebulan kemudian tepat tanggal 25 Maret 2016 ikhwan tersebut mengajak aku untuk menjalankan hubungan serius.
Disaat usia ku berada di masa-masa remaja teralihkan dengan masa kedewasaan. Sebuah batas yang kadang tidak jelas, apakah diri ini masih remaja, ataukah benar-benar sudah dewasa dan dapat memikul tanggung jawab orang lain, melalui menikah. Tapi, akhirnya waktu itupun tiba. Sebuah waktu dimana aku memutuskan untuk memulai sebuah proses suci dan diridhoi oleh Allah.

Sungguh, jika kita bisa menjalankan tuntunan agama ini sebagaima seharusnya, pastilah kebahagiaan dan keselamatan yang akan kita dapatkan. Contohnya ya apa yang telah aku lakukan. Proses taaruf yang benar-benar dijaga cara dan aturan-aturannya. Tak ada berkhalwat yang bisa menimbulkan fitnah. Tak ada pembicaraan-pembicaraan mesra. Yang ada hanyalah pembicaraan-pembicaraan yang penting dan memikirkan manfaat kedepan. Sungguh jauh berbeda dengan konsep pacaran yang dianut beberapa pemuda-pemudi di dunia ini (mudahan Allah memberikan kita hidayah).

Proses taaruf itu sendiri difasilitasi oleh seorang murobbi, kebetulan beliau adalah pamanku. Beliau juga deket dengan calonku waktu itu.
Nah, proses ini tidaklah mudah bagiku. Alasan paling besar adalah ini kali pertama aku memulai proses taaruf ini dengan seorang ikhwan. Walaupun terbiasa berbicara dengan orang lain di depan umum, tapi entah mengapa ketika aku melakukan proses ini, gugupnya minta ampun. Sambil terus mengucapkan doa dan dzikir dalam hati, berharap Allah memberikan yang terbaik buatku.

Kami menyepakati untuk memulai proses ini di bulan April, dan menghadirkan satu orang murobbi yang dipercaya untuk mengawal seluruh proses ini.
Pada pertemuan ini kami banyak membahas mengenai visi dan misi keluarga ke depan, kedalaman ilmu agama, pandangan mengenai karir, menceritakan sifat dan karakter masing, dan alasan kenapa memilih si calon.
Di akhir pertemuan ini kami menyimpulkan bahwa kita akan mengambil keputusan untuk menerima pinangan atau tidak 3 bulan setelahnya. Artinya bulan Juli tepatnya kami akan mendapat jawaban apakah aku menerimanya sebagai suami ataukah tidak, begitupun dengan dia, apakah dia akan menerimaku sebagai istrinya atau tidak.

Dalam proses 3 bulan itu, sungguh bulan-bulan yang tidak mudah bagiku dan juga baginya. Bagaimana tidak, ini merupakan keputusan besar dalam hidupku. Aku hanya ingin melakukannya sekali dengan orang yang tepat. Karena itu shalat-shalat istikharah dan doa menjadi hal-hal yang sering kulakukan dalam 3 bulan itu.
Alhamdulillah jawaban itu datang dari Allah, semakin hari Allah semakin menguatkan keyakinan ku pada keputusan ini. Aku akan menerimanya dengan meminta nasehat beberapa orang, baik yang sudah menikah ataupun belum, semakin mempertebal keyakinanku. Terima kasih atas dukungannya selama ini.

Hari terus berjalan..
Dalam waktu penantian itu, kami juga menjaga agar semua prosesnya tetap terjaga ke-ahsan-annya. Tidak saling sms ataupun menghubungi terkecuali hal-hal yang darurat. Biar hati kami benar-benar hanya mendapat inspirasi keyakinan dari Allah semata, bukan atas dasar hawa nafsu semata.

Bulan Juli tiba, kami akan mendengarkan jawaban masing-masing atas istikharah yang kami lakukan. Dan forum ini dimulai dari jawaban dia, jawabannya adalah dia tetap pada komitmen awal, bahwa tak ada yang membuat dia ragu untuk memilihnya, dan dia ingin proses ini dijajaki ke tahap yang lebih serius, yakni menikah.
Kemudian, giliran berikutnya adalah jawaban aku. Aku pun merasakan hal yang sama dengannya. Aku sama sekali tidak ragu kalau aku menjadi istrinya, dia bisa membimbing aku dan calon keluarga kita nanti.
“Tetapi, orang tuaku masih belum setuju aku menikah sekarang. Lagipula aku masih dalam tahap study S1. Masih harus menunggu aku keluar dari perkuliahan itu, sekitar 3 tahun lagi. Lagipula orangtuaku belum tahu kesanggupanmu dalam menafkahiku nanti.”
Lantas, dia menyampaikan padaku “Hmm, kita sama-sama tahu bahwa Allah punya rencana yang sangat indah buat diri kita masing-masing. Sebuah rencana yang akan membawa diri kita pada kebaikan. Aku tahu, kondisi mu sekarang, juga kekhawatiran orang tuamu apakah aku bisa menafkahi mu kelak. Lagipula mereka memang belum mengenalku. Kalau begitu, kita sepakat untuk menyudahi proses ini. Aku sangat yakin, jika kamu adalah istriku nanti, suatu hari kita akan dipertemukan lagi dan akan dimudahkan jalan menuju kesana. Namun jika tidak, aku juga yakin ada orang lain yang lebih tepat untukmu dan untukku. Aku hanya ingin yang terbaik. Mudah-mudahan Allah menjaga hati kita, agar tidak terkotori lagi.”

Forum ini ditutup dengan pesan dia kepadaku “Jaga diri baik-baik, jika Allah berkehendak kita menjadi suami-istri nanti, yakinlah, kita akan dipertemukan kembali dalam sebuah ikatan yang suci, sebuah ikatan yang menyempurnakan separuh dien ini, yakni pernikahan. Selama proses ini, marilah kita memperbaiki diri masing-masing dulu. Mulai membicarakan ini ke orang tua masing-masing, menyiapkan ilmu dan targetan-targetan akhirat, kesiapan mental, dan juga khusus buatku, akan mempersiapkan kemampuanku dalam finansial untuk menafkahi keluargaku nanti. Mudahan Allah mendengarkan doa-doa kita ini. Lebih jaga hati dan jaga pandangan, karena kita sama-sama punya komitmen.”

Pada bulan Agustus, kami membicarakan hal ini kepada orangtua masing-masing dan dia betemu dengan orangtua aku, begitupun aku bertemu dengan orangtuanya, akhirnya orangtua pun dengan beberapa pertimbangan menyetujui proses ta’aruf kami dan lanjut pada tahap khitbah.

Penantian seorang caon istri...
Ya Rabb… berharap keluargaku faham..agar menyegerakan akad ni..
Sabar dalam komitmen, sabar dalan setiap penantian dan sabar dalam ujian, itulah yang kurasakan dalam penantian setelah proses taarufku lancar, dan siap ke pernikahan.
Bagiku ujian ini cukup berat, karena tidak hanya logika dan perasaanku yang berperan, namun semua panca indera ku pun ikut berperan..
Ya Rabb.. mudahkan..mudahkan.. dalam penantian ini..
Tidak hanya aku disini yang harap-harap cemas, melainkan mujahidku juga…
Berfikir bahwa ini ujian awal kita, apakah kita bisa melewati semuanya dengan fikiran tenang dan menyikapinya jauh lebih dewasa, seandainya ini semua bisa terlampaui, maka kita berhasil dan ujian yang didepanpun akan terlewati dengan mudah.
Bismillah kita pasti bisa melewatinya bersama, aku menantinya, aku yakin mujahidku akan menepati janji itu, akan meredakan semua kepanikanku saat ini..
Ya Rabb.. lindungi selalu dia dimanapun dia berada, jaga dan mudahkan langkahnya.. karena aku disini merindukannya.. merindukan seseorang yang akan mengajakku bertemu dangan Rabbnya.. bersama-sama berjalan menuju surgaNya.. aminn.

Menuju Pernikahan
Ya Rabb, tak terasa sudah bulan september lagi…
Bulan dimana beliau dan keluarga datang kerumah aku untuk melaksanakan khitbah ..
Ya saat ni aku sedang menghitung bulan, rasa cemasku semakin menjadi-jadi. Semakin dekat, rasa cemas itu semakin berdegup. Rabb kuatkan selalu hamba. Proses persiapan pernikahan kami  4 bulan, berharap Engkau selalu mendengar doa-doa kami.
Kami yakin pada janjimu ya Allah ya rabbal alamiin.
Inilah proses taaruf kami, kisah taarufku yang begitu menguras energi perasaanku, menyita seluruh perhatianku selama 7 bulan.
Berawal di bulan Februari pertemuanku dengan dia, sebuah kejutan dari Allah swt, data taaruf yang tak kusangka. Itulah taaruf  yang berkah dan indah  serta sukses dalam kehidupanku.
Lalu bulan Agustus pertemuan antara dia dengan orang tuaku dan aku dengan orang tua dia,  untuk mengenal lebih dekat. Langkah selanjutnya, setelah taaruf,  maka kami khitbah dulu di bulan September, tepatnya ahad 26 2016. Maka penantian pun begitu indah dan banyak ujian dalam perjalanan suci kami.
Kami menjalani proses taaruf dengan bekal keyakinan, Allah akan memudahkan jalan kami, Allah akan memberikan pertolongan  pada niat suci kami, Allah akan menguatkan langkah perjuangan kami, menguatkan keistiqomahan kami untuk selalu berada di jalan da’wahNya. 
Dan aqad ijab qobul di pelaminan, pada hari sabtu 7 Januari 2017 adalah buktiNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar