Tentang Pacaran…
Dulu ketika aku duduk dibangku SMA..
Aku adalah seorang wanita yang sangat mudah
untuk dekat dengan laki-laki, mungkin banyak laki-laki yang merasa nyaman
denganku, mereka banyak yang memberi perhatian lebih kepadaku tapi aku anggap
semuanya biasa-biasa saja, tapi dari sekian banyaknya laki-laki yang dekat ada
satu yang membuat aku lebih nyaman dan pada akhirmya aku merasakan yang namanya
pacaran, aku mendefinisikan pacaran
itu dimana ada seorang manusia yang menyukai lawan jenisnya, yang menumbuhkan
rasa sayang dan cinta, saat aku sendiri aku merasa butuh motivasi, merasa
kesepian terutama HP ga ada yang chat .. hehee
Dan ketika seseorang hadir dalam hidupku
alias aku punya pacar, aku merasa itu menjadikan aku lebih bersemangat baik itu
dalam hal belajar atau beraktivitas karena adanya motivasi dari seseorang yang
selalu memberikan saran dan perhatiannya.
Ketika berpacaran kemana-mana selalu dengannya, pernah merasakan di bonceng
antar-jemput kesana-kesini. Padahal saat itu aku tahu pacaran itu tidak ada
dalam islam, yang ada hanyalah ta’aruf untuk menuju pernikahan. Tapi entahlah
apa yang sedang saya rasakan saat itu, merasa asyik dengan duniaku sendiri.
Aahh masa SMA itu adalah masa ketika aku
masih jahiliyah, masih tertutup hatinya, masih ingin bersenang-senang dan masih
terpengaruh oleh godaan-godaan.
Akhirnya, tibalah aku melangkahkan kaki
menuju perguruan tinggi dimana aku harus menjadi pribadi yang lebih baik lagi,
dengan jenjang yang berbeda maka diri pribadi pun harus berbeda menjadi lebih
baik lagi.
Namun, saat awal masuk kuliah aku masih
berpacaran dengannya karena aku
berfikir aku takut sendiri, takut ga semangat belajar jika tanpa dia, dan aku
khawatir jika aku putuskan dia nanti dia bakal frustasi atau membenci aku..
Banyak ketakutan dan kegelisahan yang menerpa
tapi aku lalui itu semua karena aku yakin cinta kepada Allah lah yang sangat
mulia, cintai penciptanya barulah kita cinta pada ciptaannya.
Seiring berjalannya waktu, saat aku duduk
dibangku perkuliahan aku memiliki niat untuk berhijrah, banyak yang memberi aku
arahan mengenai pacaran entah itu dari orangtua, sahabat-sahabat dan
dosen-dosen lainnya. Mereka melarang aku untuk berpacaran bahkan dekat teman
dengan laki-laki pun mereka larang, intinya harus jaga batasan dengan lawan
jenis.
Ada
orang yang mengatakan Pacaran Adalah
Perbuatan Mendekati Zina
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ ayat 32)
“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS Al-Isra’ ayat 32)
Katakanlah kepada orang
laki-laki yang beriman : “Hendaklah
mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu
adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat.” (QS An-Nur ayat 30).
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan
hari akhir maka jangan sekali-kali dia berkhalwat dengan seorang wanita tanpa
disertai mahramnya, karena setan akan menyertai keduanya.” (HR. Ahmad)
Dari beberapa hadist
Rasulullah diatas, sudah jelaslah dan dapat ditarik kesimpulan bahwa
pacaran/hubungan antara laki laki dan perempuan yang bukan mahramnya merupakan
perbuatan mendekati perzinahan. Karena Allah SWT dan Rasulnya dengan jelas
melarang kita berdua duaan dengan wanita yang bukan muhrimnya. Mendekati
zina/pacaran saja Allah sebut dengan perbuatan keji dan nista, bagaimana jika
kita menyentuh dan akhirnya terjerumus dalam zina.
Alhamdulillah dengan banyaknya pengetahuan akhirnya
aku sudah tidak lagi berpacaran...
Dan kini setelah aku tumbuh menjadi dewasa, banyak
mengetahui tentang hukum islam, mulai berfikir dan berfikir bagaimana agar aku
bisa merubah semua kebiasaan buruk aku di masa lalu.
Pada akhir semester I aku berniat untuk
berhijrah akhirnya terwujud walaupun hijrahku belum benar-benar baik karena aku
masih perlu banyak belajar. Disinilah awal aku untuk menjadi pribadi yang lebih
baik lagi, mulai untuk jaga batasan/jarak dengan ikhwan, tidak banyak
chattingan jika tidak penting, dan tidak mengobrol jika tidak ada urusan.
Akhirnya aku merasakan kesendirian, tapi berpisah bagiku itu bukan hal yang menyedihkan karena masih ada
orang-orang sholehah terdekat aku yang akan selalu bersama aku suka dan dukanya,
dan tentunya Allah selalu bersamaku.
Hey, Apakah hanya karena melihat
mereka yang belum halal itu bangga menunjukkan kebahagiaan mereka sebagai
sepasang kekasih yang memiliki pacar ganteng, kaya dan tampan itu, lantas kita
malu dengan gelar jomblo kita itu?
Padahal kesendirian kita itu cara Allah
menjaga kita dari dosa karena jika pernah berpacaran sudah pasti setiap detik
dosa kita bertambah.
Masihkan kita malu menjalankan perintahNya?
Ga usah malu jika tidak tenar, yang penting
kita mulia di hadapanNya.
Ga usah malu dikatakan sok alim, sok suci,
lebih malu mana diketawain manusia apa diketawain syaitan karena menjadi
pengikutnya?
Kenapa harus malu menjalankan perintah Allah,
mereka yang melanggar perintah Allah aja bangga 😃
So , do the best and be the best !!!
Bagi yang telah terikat cinta sebelum halal
lalu patah hati dan mulai berhijrah (move on-memperbaiki diri) .
Kenangan itu
serupa hujan. Payungnya ibarat doa. Ia akan menjaga dari kuyup luka akan
kenangan. Jangan melawan, memaki bahkan merutuki saat kenangan datang.
Tapi terimalah dengan lapang. Tak perlu
memberontak. Adukan pada Allah. Berdoalah pada Allah untuk dikuatkan,
disabarkan dan ikhlas menerima semua kenangan itu. Dan tunggulah sampai reda.
Semakin ikhlas menerima kenangan itu datang,
baik rintik, gerimis maupun deras, maka semakin cepat luka akan masa lalu
sirna.
Tunggulah reda dan pelangi muncul setelahnya.
Allah telah
menyiapkan hal baik bagi hambaNya yang bersabar istiqomah memperbaiki diri dari
cinta yang belum halal.
Hijrah itu bukan tentang seseorang yang berubah menjadi
malaikat, tapi hijrah adalah tentang seorang hamba yang ingin taat.
Hijrah adalah tentang bagaimana merangkak,
berjalan lalu akhirnya berlari menuju ridhaNya. Bukan
seberapa cepat, tapi seberapa kuat ia bertahan.
Sekali lagi, hijrah itu proses..
Bagaimana kita bisa menuju puncak jika kita
tidak mendaki?
Begitupula, bagaimana kita bisa menjalankan
sesuatu sesuai syari’at islam kalau kita tak memulai?
Tak ada yang perlu diragukan..
Orangtua yang tak merestui? Takut jodoh tak
ada? Hidup kita terasa jauh tertinggal?
Ahh payaah..
Setiap
bahagia butuh perjuangan. Setiap cinta butuh pengorbanan.
Anggap saja hijrah ini adalah bukti cintamu
pada Rabbmu, sang pencipta alam.
Aku sangat paham, tidak ada yang bisa merubah
seseorangpun, kecuali atas kemauannya sendiri dengan izin Allah.
Hijrah memang sulit, tapi ada yang lebih
sulit lagi dari sekedar berubah.
Jika pada masa ‘perubahan’ kita hanya butuh
berjalan lambat-lambat. Maka ketika kita jaga perubhan itu, kita harus
memelunya erat-erat. Agar tak ada satupun dari perubahan kita yang akhirnya
lepas satu-satu dan mengembalikan kita ke masa lalu.
Ya, hijrah is the most easy at all. But
istiqomah is the hardest thing after hijrah. You don’t know? Try it at your
life !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar