Senin, 13 November 2017

I’m pregnant :-)


Yey !

Diluar dugaan, kehamilan datang secepat kilat, kehamilan terjadi tak lama setelah akad. Benar saja, karena saat menikah saya sedang menstruasi. Dan, Jreeeng! Alhamdulillah, Allah langsung menitipkan malaikat kecil pada rahim saya.

Bagaimana rasanya mendapat amanah seperti itu?
Rasanya tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
Pegel, seneng, mual, bersyukur, bahagia, haru tak terkira.
Begitulah.

Untuk ibu-ibu pemula seperti saya, kebingungan jelas melanda. Betapa tidak, Euforia menjadi istri masih melekat erat. Penambahan tanggung jawab, peralihan peran dan fungsi masih membuat kacau jam kerja tubuh. Setiap hari, biasanya dihabiskan untuk bermalas-malasan. Lantas, harus menyesuaikan diri untuk menjadi partner laki-laki paling ganteng sejagad setelah ayah šŸ˜€
Banyak suka-duka dialami selama membina rumah tangga yang masih seumur jagung ini. Alhamdulillah, masih diberi petunjuk dan kekuatan untuk menjalani dengan sebaik-baiknya, setiap hari tantangan dimulai dari bangun pagi, masak dan kuliah (meski dalam keadaan hamil).
Belum selesai kegembiraan-kegembiraan menjadi istri (percayalah, manten baru lebih banyak gembiranya ketimbang sedihnya), saya kemudian mendapati tubuh yang kian melemah. Badan demam, pusing, mual, dan pegal..

Saat itu suami sedang diluar kota karena tugas dari kantor, saya fikir saya hanya sakit biasa tapi ternyata sakitnya tak kunjung reda, akhirnya saya coba beli test-pack untuk memastikan sebenernya ada apa dengan tubuh saya ini?
Benarlah, ternyata semua itu adalah tanda-tanda kehamilan :D

Yey!
Akhirnya, keluarga kecil yang baru kami bina ini diamanahkan seorang malaikat mungil yang masih dalam proses pembentukan dalam rahim.
Senang ya senang sekali.
Tapi ternyata, menyambut kehamilan memang memerlukan energi tinggi dan kesabaran tingkat dewa. Tak jarang saya banyak mengeluh. Bayangkan, kalau sakit sedikit saja, saya masih merengek-rengek (meski seringnya merawat diri sendiri di kosan), tapi saya memang cenderung tidak tahan sakit, pusing, manja. Pokoknya hal-hal yang masih berhubungan dengan anak kecil bisa disangkutkan ke saya, perihal durabilitas menahan sakit (nggak bisa banget kena sakit).

Nah kemudian, gabungkan dengan pengalaman hamil trimester pertama.
Gejalanya adalah setiap hari mual terus melanda. Untungnya, saya hanya dua bulan. Ngantuk terus, malas, tidak nafsu makan, sampai bobot saya turun dan hanya tersisa 39 kg.
Ketika diperiksa di bidan, alhamdulillah saya masih dinyatakan sehat-sehat saja dan bobot tubuh masih bisa dimaklumi sebagai ibu hamil pemula. Bidan hanya menyarankan untuk minum obat antimual supaya saya nafsu makan (dan nggak diminum juga), tak lupa menelan tablet penambah darah, sesaat sebelum tidur.Memang gejala pada tiap ibu itu berbeda. Ada bahkan yang mualnya dari trimester pertama hingga mau melahirkan. Alhamdulillah, saya cuma dua bulan.
Bagaimana soal ngidam?
Saya tidak terlalu harus banget saat itu ada apa yang saya inginkan, alhamdulillah saya ngidamnya tidak yang menyusahkan suami. Paling saya pengennya minum kelapa muda, durian (meski ga baik untuk ibu hamil), makanan lainnya, daan selalu pengennya jalan-jalan :-D
Bawaan bayinya apa?
Konon, tiap ibu hamil pasti bertingkah agak lain dari biasanya, ini disebut “bawaan bayi”. Kalau saya? Jadi makin malas (padahal udah malas kan ya), tapi wajah jadi makin berinar, gampang nangis kalau dibentak, tidak suka bising, kalau dengar keramaian dan nada-nada tinggi pasti stress, tidak suka berada di tempat ramai yang banyak orang asingnya, kayaknya itu aja deh.

Setelah dua bulan tersiksa lahir-batin, akhirnya pelangi datang juga.
Tepat pada bulan ketiga, gejala-gejala khas ibu hamil perlahan menghilang. Perut pun makin membuncit, mengeras, enak dielus-elus, apalagi sama suami #eh.
Saya jadi makin bangga menjadi ibu hamil, makin bahagia, makin disayang suami, dan makin lincah bergerak meski gampang capek. Bayinya juga nggak rewel, kalau ibunya repot, misal di rumah sendirian, kuliah, banyak tugas. Nggak bikin mual, nggak bikin capek, ibunya jadi bisa masak, beberes, dan menjalani hari seperti gadis muda pada umumnya šŸ˜€
Bulan ketiga adalah bulan surga bagi saya.
Di bulan ini, syukur mulai terpanjatkan, sudah jarang mengeluh. Kuliah juga sudah enerjik, udah bisa jalan-jalan sama sahabat, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan lainnya.
Alhamdulillah.
Konon, ketika seorang ibu berhasil melalui trimester pertamanya, ia boleh bersyukur. Masa kritis telah lewat. Pembentukan organ-organ vital telah selesai. Sekarang, ibu hanya menunggu jabang bayinya membesar, menyempurnakan bentuk, mendapat anugerah roh dari Illahi, dan mempersiapkan diri untuk lahir beberapa bulan ke depan.
Untuk trimester dua dan tiga alhamdulillah bayi dan ibunya dalam keadaan sehat, namun saat itu kondisi bayi dalam keadaan sungsang dan diharuskan banyak beraktivitas yang membuat kepala bayi berputar, qodarullah semua usaha telah dilakukan namun trimester tiga kondisi bayi tetap sungsang.

Ternyata, pengalaman menjadi seorang ibu lebih menarik, ketimbang menjadi istri. Karena, menjadi ibu, berarti menjadi perempuan istimewa untuk dua orang sekaligus: anak dan suami..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar