Caesar adalah
melahirkan dengan melakukan sayatan pada perut untuk mengeluarkan bayi (kesimpulan
saya). Topik ini menjadi sangat menarik untuk para calon ibu yang sudah divonis
harus melahirkan secara caesar karena alasan medis dll, terutama untuk para ibu-ibu
muda yang baru pertama kali hamil dan akan menjalani persalinan yang pertama.
Pastinya sangat deg-degan dan menimbulkan berbagai pertanyaan bagaimana ya
nanti prosesnya? sesakit apa ya? bagaimana ya rasanya dibius? dan masih banyak
lagi. Berbagai hal akan dilakukan para calon ibu muda untuk mencari info baik
lewat buku ataupun internet agar persiapan persalinan lebih matang. Sama
seperti yang saya lakukan. Disini saya akan menceritakan dari kenapa saya harus
melakukan operasi caesar, sampai detail proses persalinannya.
Di umur
kehamilan ke-32 posisi bayi saya masih sungsang, ini diketahui dari hasil usg.
Dokter menyuruh saya untuk nungging dengan dada menyandar alas minimal 5x dalam
sehari, jika sampai umur 39 minggu bayi belum berada di posisinya terpaksa
harus melahirkan secara caesar kata nya. Saya mulai cemas, karena persiapan
mental yang saya tanamkan dari awal adalah untuk melahirkan normal, bagaimana
harus mengejan, bagaimana mempersiapkan pernafasan yang bagus, bahkan saya
sudah banyak membaca artikel-artikel melahirkan secara normal. Pastinya di
dunia ini lebih banyak wanita yang ingin melahirkan normal daripada caesar.
Usaha yang saya
lakukan ternyata tidak membuahkan hasil. Di umur kehamilan 37 minggu hasil usg
masih sama. Mau tak mau saya harus melakukan operasi sebelum minggu ke 40.
Karena kata artikel-artikel yang saya baca jika ingin melakukan operasi caesar
lebih baik dimajukan dari hpl (hari perkiraan lahir), takutnya nanti keburu
lahir dan beresiko tinggi.
Hpl saya jatuh
pada tanggal 10 okt 2017. Saya dan orangtua berencana akan periksa 1 kali lagi
dan akan konsultasi dengan dokter kapan waktu yang tepat, tentunya sebelum
tanggal 10.
Sore hari, tanggal
4 Okt 2017 saya periksa usg, tanpa konsultasi akhirnya dokter langsung
mengatakan "besok operasi ya, malam ini langsung dirawat, silahkan pulang
dulu untuk mempersiapkan segalanya tapi sebelum pulang cek darah dulu".
Perasaan saya ketika itu cemas, takut, dagdigdug dan suami saya berada di bdg pada
malam itu langsung berangkat menuju bogor tempat saya akan melahirkan.
Tibalah malam
hari di RS, karena tidak ada suami, ayah saya langsung diminta untuk mengisi
data-data dan perjanjian dari RS. Pukul 23:00, saya masuk ruang IGD dan perawat
langsung memasangkan infus dan karteter (pertama kalinya saya dipasang alat ini).
Bagi yang belum pernah dipasang infus, rasanya hanya seperti di suntik, hanya
saja yang masuk ke pembuluh darah jarumnya lebih lunak. Rasanya dipasang
karteter menurut saya tidak begitu sakit, hanya rasanya aneh, geli. Pemasangan
karteter ini juga pengalaman pertama bagi saya, saat ingin BAK rasanya urin
seperti tidak bisa keluar, ternyata sudah penuh saja kantongnya *gak kerasa,
hehe.
Pukul 00:00 saya
dibawa keruang perawat untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk operasi jam
08:00, sayangnya saya sulit sekali untuk tidur bahkan hanya tidur kurang lebih
2 jam, sebelum operasi saya mulai berpuasa dari jam 02:00..
Pagi pun tiba..
Pukul 07:30 kursi
roda di dorong, perawat bilang 'berdoa ya teh supaya lancar nanti operasinya,
supaya sehat semua'. Haduh, malah tambah bikin merinding. Saya terus berdoa
tidak henti, disela senyum dengan suami pun dalam hati saya juga sambil berdoa
terus. Takut saya ga kuat hehe. Suami saya meminta izin untuk ikut masuk ruang
operasi tapi perawat tidak mengizinkan (sedih rasanya tdk ada yang mendapingi).
Masuk ruang
operasi saya bilang sama suami dan keluarga semua "doain ya, maafin semua
kesalahan dea" semua menjawab "pasti di doakan, jgn tegang". Saya
melihat suami dengan mata yang penuh harap dan senyuman sambl berkata 'kuat ya bun'. Memang beda banget senyum suami
saya waktu itu, sepertinya ada ketakutan tapi dia mencoba menutupinya. Sayapun
begitu, bahkan sempat berfikir jika saya nanti tidak selamat berarti ini
terakhir kalinya saya melihat suami saya, hiks ..
Di dalam ruang
operasi saya diminta ganti baju operasi dibantu perawat, baju hijau gitu
dipakainya dari depan. Belakang hanya di tali. Jadi yang melekat di badan hanya
baju operasi itu saja sama kap kepala.
Saya sudah
diminta berbaring di tempat tidur dorongan menunggu detik-detik pindah ruang.
Para asisten dokter seliweran kesana kemari mempersiapkan apa-apa saja yang
dibutuhkan. Pakaian hijau-hijau lengkap dengan sarung tangan karet, masker dan
kap kepala (ga tau namanya). Suasana semakin mencekam. Ruangan sangat dingin.
Pukul 09:00. Tibalah
waktunya tempat tidur didorong. Semakin pasrah saja, hanya bisa berdoa terus
'ya allah lancarkanlah mudahkanlah, kuatkanlah hamba, beri waktu dan kesempatan
hamba untuk merasakan menjadi orangtua', hmm banyaknya permintaan seorang
hamba, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatanNya. Ternyata kamar untuk
operasi lebih dingin dari ruang operasi. Alat-alat operasi sudah dijajar rapi.
Lampu operasi sudah terang benderang. Tubuh saya diangkat dipindahkan ke meja
operasi. Rasa takut yang melanda sudah menjadi kepasrahan. Yang saya fikirkan
hanya anak saya pasti selamat, anak saya pasti lucu, ini tidak akan lama,
sebentar lagi perut saya akan segera mengecil, saya akan bertemu dengan si
kecil. Fikiran yang menurut saya dapat membantu mengurangi kegrogian. Jempol
saya mulai dipasang alat untuk mengecek denyut nadi, seperti penjepit yang ada
kabelnya dan tersalur ke monitor dengan bunyi 'tiit tiit tiit', hidung saya
dipasang oksigen, tangan saya dipasang tensi darah. Untuk alat lain saya lupa
masih ada apa saja. Selanjutnya saya diminta duduk membungkuk dengan kedua
tangan diatas paha dan badan dilemaskan seolah-olah tidur, agar tulang belakang
yang akan disuntik tidak tegang. Proses pembiusan dimulai, tulang belakang
bagian bawah disuntik, rasanya tidak begitu sakit, hanya seperti digigit semut
dan setelah itu terasa dingin seperti ada cairan yang masuk. Setelah itu saya
diminta berbaring. Tepat diatas dada saya dipasang kain berwarna hijau untuk
menutupi bagian perut kebawah, sepertinya bertujuan agar pasien tidak melihat
proses penyayatan yang takutnya akan mempengaruhi psikis pasien. Bagian paha ke
bawah rasanya seperti kesemutan. Dokter mulai membersihkan daerah dibawah perut
sampai kaki. Rasa kesemutan lama-lama berubah menjadi tebal, tapi usapan tangan
dokter masih terasa. Dokter meminta saya mengangkat kedua kaki, rasanya berat
dan kaki saya hanya bisa naik sekitar 10cm. Selanjutnya kaki kanan dan kiri
bergantian. Semakin berat dan saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi.
Operasi akan
dilakukan, dokter mengatakan 'siap ya de, berdoa'.
Terdapat 4
dokter dan 2 suster dalam ruangan, mereka mulai berdoa bersama 'Bismillah',
sayatan hanya terasa seperti kalau perut kita di sentuh dengan jari agak
menekan tanpa terkena kuku. Tapi saya tidak bisa membayangkan seberapa banyak
darah yang keluar. Setelah itu rasanya perut seperti ditarik kesana kemari,
badan saya sampai bergoyang-goyang. Tidak lama setelah itu saya mendengar
tangisan pertama anak saya. 'Subhanallah..' Langsung hilang ketakutan-ketakutan
yg terpendam. Bahagianya tidak bisa diungkapkan lagi, saya berkali-kali
mengucap alhamdulillah. Dokter bilang 'de selamat ya, anaknya laki2, ganteng,
tinggi, beratnya 2.8 kg, normal ya'. Setelah bayi dikeluarkan mulai terasa sulit
bernafas, pusing, dan mual. Dokter langsung memperhatikan denyut jantung saya
dan memberi bantal agar nafasnya bisa teratur, disinilah saya mulai pasrah
kepada Allah. Selesai membersihkan bagian yang dijahit, saya langsung muntah
karena efek obat bius, Operasi ini berlangsung selama satu jam, bayi saya lahir
pada pukul 09:25. Setelah operasi selesai, saya diangkat kembali ke tempat tidur
dorong, dengan kaki yang masih terasa tebal. Menunggu di ruang operasi, mungkin
untuk pemantauan pasca operasi kali ya. Setelah 2 jam saya dipindah lagi ke
tempat tidur dorong yang lain untuk dibawa ke ruang rawat inap. Di luar ruang
operasi sudah ada keluarga dan saudara saya.
Muka saya
kembali pucat setelah obat bius habis. Karena saya baru merasakan sakitnya
bekas sayatan, terasa panas, saya banyak mengeluarkan keringat seperti orang
habis lari, saya juga merasa sangat kehausan, selain itu sulit untuk menarik
nafas panjang karena perut sakit mengalami tekanan.
Selama 24 jam
saya tidak diperbolehkan untuk gerak hanya boleh belajar angkat kaki. Hari
kedua, alat infus mulai dilepas karna
tangan saya bengkak, tapi masih pakai karteter. Saya tidak bisa mandi karena
masih belum bisa bangun dari tempat tidur, baru belajar miring kanan kiri. Jadi
selama di RS saya mandinya cuma di lap-lap aja sama suami, hehe. Untunglah
suami saya gak jijikan orangnya. Padahal nifas masih sangat banyak diminggu
pertama pasca melahirkan. Saya memang tidak salah pilih suami, sangat bisa
diandalkan. Hari ketiga karteter saya dilepas, saya mulai belajar jalan, mulai
ke toilet sendiri pelan-pelan meski sakit tapi saya paksakan demi sembuh dan bisa
pulang kerumah, karena kalau saya belum bsa banyak gerak tidak di izinkan untuk
pulang, dan hari ahad siang dokter dan
bidan mengganti perban jahitan saya
sehingga sorenya saya kembali pulang kerumah.
Itulah
pengalaman melahirkan caesar anak pertama saya. Bagi para calon ibu muda yang
akan menjalani operasi caesar tetap semangat ya, kalian pasti bisa. Tidak
terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan kok. Karena mau tak mau kita harus
tetap menjalaninya. Semoga bermanfaat :-)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar