Jumat, 24 November 2017

Perjuangan demi Sang Buah Hati



Caesar adalah melahirkan dengan melakukan sayatan pada perut untuk mengeluarkan bayi (kesimpulan saya). Topik ini menjadi sangat menarik untuk para calon ibu yang sudah divonis harus melahirkan secara caesar karena alasan medis dll, terutama untuk para ibu-ibu muda yang baru pertama kali hamil dan akan menjalani persalinan yang pertama. Pastinya sangat deg-degan dan menimbulkan berbagai pertanyaan bagaimana ya nanti prosesnya? sesakit apa ya? bagaimana ya rasanya dibius? dan masih banyak lagi. Berbagai hal akan dilakukan para calon ibu muda untuk mencari info baik lewat buku ataupun internet agar persiapan persalinan lebih matang. Sama seperti yang saya lakukan. Disini saya akan menceritakan dari kenapa saya harus melakukan operasi caesar, sampai detail proses persalinannya.
Di umur kehamilan ke-32 posisi bayi saya masih sungsang, ini diketahui dari hasil usg. Dokter menyuruh saya untuk nungging dengan dada menyandar alas minimal 5x dalam sehari, jika sampai umur 39 minggu bayi belum berada di posisinya terpaksa harus melahirkan secara caesar kata nya. Saya mulai cemas, karena persiapan mental yang saya tanamkan dari awal adalah untuk melahirkan normal, bagaimana harus mengejan, bagaimana mempersiapkan pernafasan yang bagus, bahkan saya sudah banyak membaca artikel-artikel melahirkan secara normal. Pastinya di dunia ini lebih banyak wanita yang ingin melahirkan normal daripada caesar.
Usaha yang saya lakukan ternyata tidak membuahkan hasil. Di umur kehamilan 37 minggu hasil usg masih sama. Mau tak mau saya harus melakukan operasi sebelum minggu ke 40. Karena kata artikel-artikel yang saya baca jika ingin melakukan operasi caesar lebih baik dimajukan dari hpl (hari perkiraan lahir), takutnya nanti keburu lahir dan beresiko tinggi.
Hpl saya jatuh pada tanggal 10 okt 2017. Saya dan orangtua berencana akan periksa 1 kali lagi dan akan konsultasi dengan dokter kapan waktu yang tepat, tentunya sebelum tanggal 10.
Sore hari, tanggal 4 Okt 2017 saya periksa usg, tanpa konsultasi akhirnya dokter langsung mengatakan "besok operasi ya, malam ini langsung dirawat, silahkan pulang dulu untuk mempersiapkan segalanya tapi sebelum pulang cek darah dulu". Perasaan saya ketika itu cemas, takut, dagdigdug dan suami saya berada di bdg pada malam itu langsung berangkat menuju bogor tempat saya akan melahirkan.
Tibalah malam hari di RS, karena tidak ada suami, ayah saya langsung diminta untuk mengisi data-data dan perjanjian dari RS. Pukul 23:00, saya masuk ruang IGD dan perawat langsung memasangkan infus dan karteter (pertama kalinya saya dipasang alat ini). Bagi yang belum pernah dipasang infus, rasanya hanya seperti di suntik, hanya saja yang masuk ke pembuluh darah jarumnya lebih lunak. Rasanya dipasang karteter menurut saya tidak begitu sakit, hanya rasanya aneh, geli. Pemasangan karteter ini juga pengalaman pertama bagi saya, saat ingin BAK rasanya urin seperti tidak bisa keluar, ternyata sudah penuh saja kantongnya *gak kerasa, hehe.
Pukul 00:00 saya dibawa keruang perawat untuk istirahat dan mempersiapkan diri untuk operasi jam 08:00, sayangnya saya sulit sekali untuk tidur bahkan hanya tidur kurang lebih 2 jam, sebelum operasi saya mulai berpuasa dari jam 02:00..
Pagi pun tiba..
Pukul 07:30 kursi roda di dorong, perawat bilang 'berdoa ya teh supaya lancar nanti operasinya, supaya sehat semua'. Haduh, malah tambah bikin merinding. Saya terus berdoa tidak henti, disela senyum dengan suami pun dalam hati saya juga sambil berdoa terus. Takut saya ga kuat hehe. Suami saya meminta izin untuk ikut masuk ruang operasi tapi perawat tidak mengizinkan (sedih rasanya tdk ada yang mendapingi).
Masuk ruang operasi saya bilang sama suami dan keluarga semua "doain ya, maafin semua kesalahan dea" semua menjawab "pasti di doakan, jgn tegang". Saya melihat suami dengan mata yang penuh harap dan senyuman sambl berkata  'kuat ya bun'. Memang beda banget senyum suami saya waktu itu, sepertinya ada ketakutan tapi dia mencoba menutupinya. Sayapun begitu, bahkan sempat berfikir jika saya nanti tidak selamat berarti ini terakhir kalinya saya melihat suami saya, hiks ..
Di dalam ruang operasi saya diminta ganti baju operasi dibantu perawat, baju hijau gitu dipakainya dari depan. Belakang hanya di tali. Jadi yang melekat di badan hanya baju operasi itu saja sama kap kepala.
Saya sudah diminta berbaring di tempat tidur dorongan menunggu detik-detik pindah ruang. Para asisten dokter seliweran kesana kemari mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan. Pakaian hijau-hijau lengkap dengan sarung tangan karet, masker dan kap kepala (ga tau namanya). Suasana semakin mencekam. Ruangan sangat dingin.
Pukul 09:00. Tibalah waktunya tempat tidur didorong. Semakin pasrah saja, hanya bisa berdoa terus 'ya allah lancarkanlah mudahkanlah, kuatkanlah hamba, beri waktu dan kesempatan hamba untuk merasakan menjadi orangtua', hmm banyaknya permintaan seorang hamba, tiada daya dan upaya selain dengan kekuatanNya. Ternyata kamar untuk operasi lebih dingin dari ruang operasi. Alat-alat operasi sudah dijajar rapi. Lampu operasi sudah terang benderang. Tubuh saya diangkat dipindahkan ke meja operasi. Rasa takut yang melanda sudah menjadi kepasrahan. Yang saya fikirkan hanya anak saya pasti selamat, anak saya pasti lucu, ini tidak akan lama, sebentar lagi perut saya akan segera mengecil, saya akan bertemu dengan si kecil. Fikiran yang menurut saya dapat membantu mengurangi kegrogian. Jempol saya mulai dipasang alat untuk mengecek denyut nadi, seperti penjepit yang ada kabelnya dan tersalur ke monitor dengan bunyi 'tiit tiit tiit', hidung saya dipasang oksigen, tangan saya dipasang tensi darah. Untuk alat lain saya lupa masih ada apa saja. Selanjutnya saya diminta duduk membungkuk dengan kedua tangan diatas paha dan badan dilemaskan seolah-olah tidur, agar tulang belakang yang akan disuntik tidak tegang. Proses pembiusan dimulai, tulang belakang bagian bawah disuntik, rasanya tidak begitu sakit, hanya seperti digigit semut dan setelah itu terasa dingin seperti ada cairan yang masuk. Setelah itu saya diminta berbaring. Tepat diatas dada saya dipasang kain berwarna hijau untuk menutupi bagian perut kebawah, sepertinya bertujuan agar pasien tidak melihat proses penyayatan yang takutnya akan mempengaruhi psikis pasien. Bagian paha ke bawah rasanya seperti kesemutan. Dokter mulai membersihkan daerah dibawah perut sampai kaki. Rasa kesemutan lama-lama berubah menjadi tebal, tapi usapan tangan dokter masih terasa. Dokter meminta saya mengangkat kedua kaki, rasanya berat dan kaki saya hanya bisa naik sekitar 10cm. Selanjutnya kaki kanan dan kiri bergantian. Semakin berat dan saya tidak bisa merasakan kaki saya lagi.
Operasi akan dilakukan, dokter mengatakan 'siap ya de, berdoa'.
Terdapat 4 dokter dan 2 suster dalam ruangan, mereka mulai berdoa bersama 'Bismillah', sayatan hanya terasa seperti kalau perut kita di sentuh dengan jari agak menekan tanpa terkena kuku. Tapi saya tidak bisa membayangkan seberapa banyak darah yang keluar. Setelah itu rasanya perut seperti ditarik kesana kemari, badan saya sampai bergoyang-goyang. Tidak lama setelah itu saya mendengar tangisan pertama anak saya. 'Subhanallah..' Langsung hilang ketakutan-ketakutan yg terpendam. Bahagianya tidak bisa diungkapkan lagi, saya berkali-kali mengucap alhamdulillah. Dokter bilang 'de selamat ya, anaknya laki2, ganteng, tinggi, beratnya 2.8 kg, normal ya'. Setelah bayi dikeluarkan mulai terasa sulit bernafas, pusing, dan mual. Dokter langsung memperhatikan denyut jantung saya dan memberi bantal agar nafasnya bisa teratur, disinilah saya mulai pasrah kepada Allah. Selesai membersihkan bagian yang dijahit, saya langsung muntah karena efek obat bius, Operasi ini berlangsung selama satu jam, bayi saya lahir pada pukul 09:25. Setelah operasi selesai, saya diangkat kembali ke tempat tidur dorong, dengan kaki yang masih terasa tebal. Menunggu di ruang operasi, mungkin untuk pemantauan pasca operasi kali ya. Setelah 2 jam saya dipindah lagi ke tempat tidur dorong yang lain untuk dibawa ke ruang rawat inap. Di luar ruang operasi sudah ada keluarga dan saudara saya.
Muka saya kembali pucat setelah obat bius habis. Karena saya baru merasakan sakitnya bekas sayatan, terasa panas, saya banyak mengeluarkan keringat seperti orang habis lari, saya juga merasa sangat kehausan, selain itu sulit untuk menarik nafas panjang karena perut sakit mengalami tekanan.
Selama 24 jam saya tidak diperbolehkan untuk gerak hanya boleh belajar angkat kaki. Hari kedua, alat  infus mulai dilepas karna tangan saya bengkak, tapi masih pakai karteter. Saya tidak bisa mandi karena masih belum bisa bangun dari tempat tidur, baru belajar miring kanan kiri. Jadi selama di RS saya mandinya cuma di lap-lap aja sama suami, hehe. Untunglah suami saya gak jijikan orangnya. Padahal nifas masih sangat banyak diminggu pertama pasca melahirkan. Saya memang tidak salah pilih suami, sangat bisa diandalkan. Hari ketiga karteter saya dilepas, saya mulai belajar jalan, mulai ke toilet sendiri pelan-pelan meski sakit tapi saya paksakan demi sembuh dan bisa pulang kerumah, karena kalau saya belum bsa banyak gerak tidak di izinkan untuk pulang, dan  hari ahad siang dokter dan bidan mengganti  perban jahitan saya sehingga sorenya saya kembali pulang kerumah.
Itulah pengalaman melahirkan caesar anak pertama saya. Bagi para calon ibu muda yang akan menjalani operasi caesar tetap semangat ya, kalian pasti bisa. Tidak terlalu menakutkan seperti yang dibayangkan kok. Karena mau tak mau kita harus tetap menjalaninya. Semoga bermanfaat :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar